MUSABAQOH QIRO’ATUL KUTUB
Musabaqoh qiro”atul kutub pondok pesantren se-kabupaten Jepara yang dilaksanakan pada hari senin,13 desember 2010 merupakan salah satu program kerja dari kementrian agama, dimana juara dari musabaqoh ini akan diikutsertakan pada lomba qiro’atul kutub se-Jawa Tengah, dan BEM fakultas syari’ah INISNU Jepara diberikan kesempatan untuk menjadi panitia penyelenggara.
Ahmad Ulin Nuha selaku ketua panitia dari acara ini, menyatakan bangga mendapat kepercayaan dari kementrian agama untuk menjadi panitia penyelenggara Musabaqoh Qiro’atul kutub ini, dan menyatakan juga yang melatarbelakangi diadakannya lomba ini adalah panitia berharap suatu hari akan ada bibit baru yang ahli dalam bidang Qiro’atul Kutub. Panitia berjumlah 25 orang dari Fakultas Syari’ah semester tiga dan pengurus BEM fakultas Syari’ah INISNU.
Dalam Musabaqoh Qiraatul kutub ini ada dua tingkatan yang diujikan, yaitu marhalah ‘ula dan marhalah wustha. Dalam marhalah ‘ula yang diujikan dari fiqh adalah kitab Sulamut Taufiq, dari Nahwu adalah kitab Al-jurumiyyah, dari akhlaq kitab Ta’lim Muta’allim, dan dari Tarikh kitab Khulashoh Nurul Yaqin. Dan tingkatan Marhalah Wustho yang diujikan dari tafsir kitab Tafsir Jalalain, dari Fiqh kitab fathul Qorib, dari nahwu kitab umritiy, dan dari Akhlaq adalah kifayatul Adzqiya’. Ktiteria penilaian Musabaqoh ini adalah kefasihan membaca, kebenaran membaca, dan pemahaman ma’na. Setiap peserta membaca satu kitab yang telah ditentukan oleh panitianya.
Tema yang diusung dalam musabaqoh ini adalah “ meningkatkan jiwa spiritualisme santri demi pengembangan potensi keagamaan dan kemasyarakatan” yang memiliki tujuan keagamaan dapat meningkat dan kiprah santri ada dalam masyarakat. Musabaqoh ini ditargetkan dapat diikuti oleh 50 peserta, namun peserta yang hadir ada 39 peserta, dari ‘ula 12 peserta dan dari wustho 27 peserta.
Juri dari Musabaqoh ini ada tiga orang yaitu H. Ali As’ad Al-Hafidz, Khalilurrahman, dan Bpk.Hudi Al-Hafidz, dengan kriteria alumni dari pondok pesantren, alumni dari mahasiswa INISNU, dan yang terakhir dari dosen.
Salah satu dari peserta yang bernama Ida Masruroh yang masih berusia 12 tahun perwakilan dari pondok Darut Ta’lim Bangsri yang di datangi tim Fokus menyatakan merasa senang dapat mewakili lomba Qiro’atul kutub. (Asyiah/Uyun)
Sistem Pendidikan Rusak...!!!!
Bagaimana kondisi pendidikan kita saat ini? Banyak cercaan dan carut marut yang dilontarkan oleh berbagai pihak. Terjadinya beberapa kali perubahan sistem pendidikan, belum menunjukan kemajuan yang berarti. Berbagai kebijakan pendidikan yang sudah dilakukan pemerintah pun belum mampu menjawab permasalahan pendidikan kita. Padahal tantangan demi tantangan ke depan semakin besar dan penuh kompetitif.
Kebijakan pemerintah selama ini tidak pernah menjawab tantangan-tantangan pendidikan di negeri kita maupun tantangan pendidikan yang bersifat universal. Permasalahan-permasalahan mulai dari substansi pendidikan hingga ke praksis pendidikan tidak pernah secara tuntas diselesaikan. Wacana-wacana yang berkembangpun hanya berkisar pada dekonstruksi-dekonstruksi kebijakan yang pernah ada sebelumnya, tanpa ada solusi yang pasti. Dengan kata lain bahwa paradigma lama dianggap sudah tidak mampu lagi menjawab tantangan zaman. Diperlukan adanya paradigma baru. Kenyataannya, paradigma baru pun belum mampu untuk menemukan solusi terbaik. Oleh karena itu hasilnya belum menjadi seberkas sinar terang yang dapat memberikan pencerahan terhadap dunia pendidikan kita.
Keberhasilan pembangunan pendidikan akan berdampak luas terhadap pembangunan nasional.
Pendidikan identik dengan output SDM, dan SDM yang berkualitas hanya dapat terbentuk bilamana terdapat proses pendidikan yang berkualitas. Pendidikan berkualitas ini selanjutnya hanya bertumpu pada lembaga pendidikan yang tidak hanya membekali kemampuan kognitif saja, akan tetapi juga pada kemampuan afektif dan psikomotorik. Untuk mencapai hak tersebut, hendaknya pelaksanaan pendidikan harus mampu menciptakan situasi dan hasil belajar yang menyeluruh, sehingga hasil belajar yang dimiliki oleh siswa dapat diterapkan dalam kehidupannya. Pembelajaran hendaknya mampu mengarahkan siswa terhadap realita, fakta, obyek, fenomena, serta problematika yang dihadapi dalam hidup keseharian (Isjoni, 2008:9). Setiap siswa selaku pembelajar aktif yang selalu berusaha menemukan regulitas pengertian-pengertian dan persamaan dari setiap realita, fakta, atau fenomena yang ditemui.
Oleh sebab itu, tujuan pokok pembelajaran adalah mendorong pembentukan sikap kemandirian siswa sebagai seorang pelajar, pemikir, dan pengambil keputusan. Dengan kata lain, sasaran utama proses pendidikan umumnya serta proses belajar mengajar khususnya, pada suatu jenjang sekolah bukan menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan sebanyak-banyaknya. Namun lulusan yang memiliki serangkaian keterampilan atau kemampuan serta berbagai sikap dan nilai penting, yang tidak hanya berguna untuk melanjutkan pendidikan, tetapi juga untuk hidup dan bekerja di masyarakat. Akhirnya pembentukan sikap anak didik ini dapat berjalan dengan baik apabila ada keseriusan kita dalam mengembangkan pendidikan bermakna.
Dalam dunia pendidikan muncul pertentangan antara idealitas tujuan dengan usaha pencapaian tujuan sehingga produk yang diperoleh menjadi menyimpang . demikian pula antara tujuan ideal dengan sistematisasi pengelolaan proses belajar mengajar sehingga mengesankan kekakuan dan ketertutupan yang bertentangan dengan semangat intelektual dan kesadaran kritis yang menjadi dasar eksistensi pendidikan. Sementara itu pihak pengelola pendidikan dan para guru, menempatkan diri sebagai orang yang lebih bermoral, sumber kebaikan dan kesuksesan hidup. Pada saat yang sama, telah lama kita memprihatinkan nasib guru yang gajinya pas-pasan dan masih harus menjadi “pelayan” yang terpaksa setia kepada elite penguasa, khususnya pejabat di Departemen Pendidikan Nasional. Bisa saja kita menyatakan bahwa kekerasan dunia pendidikan itu sebagai resiko dan harga sosial yang harus dibayar dari kekurangpedulian kita terhadap nasib guru.
Walaupun UU Guru dan Dosen sudah disahkan, namun setakat ini Peraturan Pemerintah yang menindaklanjuti UU tersebut tak kunjung terealisasi. Namun alasan ekonomi itu tidaklah tepat dan juga bukan sebuah kearifan jika dijadikan pembenar bagi pelanggaran HAM dan penindasan bagi anak-anak negeri ini. Tanpa revolusi pendidikan sebagai sebuah proses induksi dan dialog budaya antar generasi, pendidikan akan mudah menjadi praktik pemasungan dan penindasan kreativitas serta perlakuan kekerasan sistematis yang terlembaga. HAM yang dinilai lebih tradisional itu dipaksakan menjadi hak hukum, hak politik, dan hak-hak lain menurut versi impersonal sebagai indikasi modernitas. Seharusnya disadari bahwa HAM, selain bersifat universal sekaligus juga seharusnya bersifat unik sesuai hakikat jati diri manusia yang unik dan misterius (Isjoni, 2008:22).
Tanpa kesadaran akan HAM dalam artinya yang tradisional itu, tujuan berprestasi dalam dunia pendidikan kemudian dipicu dengan mengabaikan hak paling asasi setiap orang. Prestasi anak dalam dunia pendidikan selama ini lebih berarti sebagai prestasi lembaga sekolah yang menumbuhkan kebanggaan berlebihan pada lembaga. Muncul sentiment lembaga yang dibangun secara sistematis dari ruang-ruang kelas bahwa sekolahnyalah yang paling jawara dalam banyak bidang. Inilah sebenarnya yang menjadi akar bentrokan antar sekolah. Dan inilah sebenarnya yang menjadi akar dari segala kerusuhan antar kelompok di dalam masyarakat kita selama ini.
Pendidikan seharusnya tidak diletakkan dan dikelola sebagai paket pengembangan jiwa atau kepribadian hingga keterampilan, tetapi pemberian fasilitas bagi setiap manusia untuk bisa mengalami dan menyelesaikan sebanyak mungkin masalah. Dengan demikian, pendidikan merupakan rekonstruksi pengalaman sejarah secara akumulatif sehingga manusia bisa belajar dari sejarah masa lalu. Karena itulah, kecerdasan seharusnya diorientasikan bukan sekedar prestasi otak, tetapi juga sebagai kualitas spiritual dan religious serta pemihakan pada kemanusiaan tradisional.
Pendidikan merupakan persemaian ide dan pemikiran, suatu landasan yang digunakan untuk membangun bangsa. Jika pendidikan kehilangan ideologinya maka yang terjadi dalam masyarakat adalah disorientasi dalam membangun masyarakat, bangsa kehilangan jati diri, sedangkan para pemimpin hanya merasakan pragmatism dan oportunisme. Pendidikan seharusnya menjadi wahana manusia untuk belajar hidup menyelesaikan problem kehidupan yang dihadapi. Namun sayangnya, pendidikan lebih sebagai sebuah paket peniruan gaya hidup versi penguasa, birokrat pendidikan, dan para orang dewasa. Karena itulah pendidikan sering terperangkap sebagai praktik ke-kuno-an dan gaya hidup generasi terdahulu yang ketinggalan zaman. Bahkan pendidikan juga mudah terperangkap sebagai praktik sebuah “sistem” penindasan dan ketidakadilan.
Pendidikan yang terjebak pada kebutuhan teknis dan melayani industri biasanya akan terjebak pada upaya menjawab pertanyaan mendasar tantang fungsi dan hakikat pendidikan. Persoalan ideologi sebagai suatu landasan dasar bagi penyelenggaraan pendidikan tak lagi dipikirkan. Berhadapan dengan kapitalisme global, para elite pembuat kebijakan tampak berupaya memformat kebijakan yang kadang tak begitu jelas. Bukannya melihat adanya kontradiksi jika mengikuti alur dan logika berpikir kapitalistik, pendidikan justru berusaha menyesuaikan diri dengan kebutuhan kapitalisme itu.Menurut Soyomukti (2008:25) tesis yang diajukan mengenai mundurnya kualitas pendidikan di Indonesia, dan sebenarnya juga di berbagai belahan dunia lainnya adalah karena diabaikannya upaya mencari pilihan ideologis bagi pelaksanaan pendidikan sehingga kebijakan pendidikan tidak lagi diselenggarakan berdasarkan asumsi-asumsi idealistik dan hanya memenuhi kebutuhan praktis yang sayangnya tak pernah dipikirkan akibat-akibat jangka panjangnya. Dalam kaitan itu, pendidikan telah terjebak pada pragmatism untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan praktis akibat adanya perkembangan globalisasi, tetapi dalam pelaksanaannya pun tidak dilakukan secara terencana, komprehensif, dan hanya menunjukkan adanya perubahan kebijaksanaan yang berubah-ubah untuk disesuaikan dengan kebutuhan pasar (kapitalis).
Fakta bahwa pendidikan selalu dijadikan alat bagi indoktrinasi ideologi bukanlah suatu masalah, karena itu akan selalu terjadi dalam suatu sejarah. Persoalannya, bukan ada atau tidaknya ideologi, tetapi ideologi macam apa yang diajarkan dan apa manfaat suatu ideologi terhadap kehidupan manusia. Hidup itu penuh ide. Tetapi, apakah ide yang berkembang itu berkontradiksi pada upaya menciptakan harmonisasi realitas kehidupan ataukah ide itu mendukung kemajuan umat manusia atau perikehidupan suatu bangsa. Hal itulah yang perlu dijadikan sebagai pijakan bagi pendidikan kita (Soyomukti, 2008:29).
Pengetahuan (sebagai kumpulan ide-ide yang ada dalam pikiran manusia) telah mengubah cara pandang dan juga telah memandu manusia untuk meningkatkan kemampuan teknik. Pengetahuan dan teknologi adalah kekuatan konkret manusia yang membawanya pada kemajuan, dan kekuatan itu didapatkan dengan proses yang dinamakan pendidikan. Sekolah menjadi lembaga bagaimana pengetahuan dan wawasan teknis ditularkan. Ide dan pengetahuan benarlah yang akan memajukan masyarakat. Pendidikan sejati bertugas menularkan ide, pengetahuan, cara berfikir, wawasan dan kemampuan teknik pada anak-anak dan generasi muda. Sekolah yang palsu adalah tempat persemaian ide-ide palsu yang membuat anak-anak salah dalam memahami kehidupannya. Pendidikan yang bermanfaat adalah pendidikan yang menyebarkan ide-ide dan pengetahuan yang benar, serta wawasan dan kemampuan teknik yang berguna bagi generasi itu dan masyarakatnya (Soyomukti, 2008:30).
Jika kita mau menyadari arti pendidikan yang sesungguhnya bahwa pendidikan adalah proses memaknai kehidupan dan realitas sehingga manusia dapat bertahan hidup dari pengalaman-pengalaman hidup yang telah dialaminya. Kita harus memahami pentingnya kedekatan manusia dengan dunianya serta realitas dengan objektivitas dan totalitasnya. Dengan hidup secara total (keseluruhan) dengan realitas anak-anak didik akan mampu mempercepat pemahamannya akan berbagai persoalan yang ada di dunia. Semakin dekat dengan realitas, semakin objektif pandangannya terhadap suatu masalah yang berakar pada realitas sehingga kian dewasalah cara berpikirnya. Filosof Jerman, Gothe, dalam Soyomukti (2008:42) pernah berkata: “Manusia mengetahui dirinya sebanyak pengetahuannya tentang dunia; manusia mengetahui dunia hanya dalam dirinya sendiri dan dia menyadari dirinya sendiri dalam dunia ini. Setiap objek yang benar-benar baru dikenal membuka sebuah organ baru dalam diri kita.”
Menurut Comenius dalam Soyomukti (2008:8) menyatakan, pendidikan yang layak bagi anak didik tidaklah dengan mencekoki berbagai kata-kata, kalimat, dan ide0ide dalam kepala mereka yang diulurkan bersama beragam pengarang, tapi pendidik harus mampu membuka pemahaman mereka terhadap dunia luas sehingga aliran kehidupan bisa jadi mengalir dari pikiran mereka seperti halnya daun, bunga, dan buah yang tumbuh dari kuncup sebuah pohon. Begitu indahnya kata-kata ini yang mengajak peserta didik kita untuk bersikap kritis, rasional, dan tidak boleh terbelenggu oleh setiap ragam penindasan dan imperialism terhadap dunia pendidikan. Inilah yang dinamakan “Pendidikan Manusia”.
Pendidikan untuk menciptakan dan mempertahankan sosialisme, sebagai jalan pembebasan manusia, dengan demikian harus demokratis, menciptakan kondisi anak-anak didik yang benar-benar bebas, rasional, aktif, dan independen. Tidak adanya penghisapan dalam hubungan ekonomi diharapkan akan membuat kerja yang dilakukan bukan semata-mata untuk memenuhi suatu hal yang terpaksa atau hanya karena kebutuhan primer seperti makan. Manusia, yang membedakannya dengan binatang, adalah manusia yang bukan semata-mata memenuhi kebutuhan hewaniah. Manusia punya karakter solidaritas, estetis, yang hidup untuk memperjuangkan keindahan hubungan dan memproduksi sesuatu yang lebih dari memenuhi kebutuhan tubuhnya, karena manusia adalah keberadaan yang tertinggi disbanding binatang (Soyomukti, 2008:103).
Tujuan pendidikan adalah pemanusiaan manusia. Pendidikan adalah bagian dari sejarah masyarakat kita, yang, bahkan kita harapkan untuk membentuk masyarakat itu. Pendidikan harus diberikan secara missal karena dengan adanya massalisasi pendidikan, upaya menciptakan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan yang meluas juga dimungkinkan. Hal ini sejalan apa yang dikatakan oleh Karl Marx bahwa, “Ilmu tidak boleh menjadi kesenangan diri sendiri. Orang-orang yang memiliki nasib baik untuk terjun dalam pencarian ilmu pertama-tama harus menempatkan pengetahuannya demi kepentingan kemanusiaan” (Soyomukti, 2008:52). Jadi, pengetahuan dan teknologi juga harus disosialisasikan bersamaan dengan asset-aset produksi. Dalam masyarakat berkelas (feodalisme dan kapitalisme), hanya sedikit orang (kalangan kelas penguasa/penindas) yang berwawasan terampil, sehingga pos-pos ekonomi dan kekuasaan pun dipegang oleh mereka dan untuk mereka sendiri.
Comenius juga berprinsip bahwa pendidikan itu harus berlangsung sepanjang hayat (life long education), yang berarti setiap orang berhak untuk mendapatkan pendidikan disepanjang kehidupannya, tanpa ada batasan, kunkungan, dan berbagai tetek bengek birokratisme pendidikan. Itu berarti, setiap anak bangsa harus mendapatkan pendidikan, baik itu formal, informal, maupun non formal; dan tidak boleh ada sekat bahwa karena seorang anak itu miskin, maka tidak boleh sekolah; dan bahwa karena anak itu cacat maka tidak berhak memperoleh pendidikan secara layak. Mereka semua berhak untuk mendapatkan pendidikan sepanjang hidupnya tanpa melihat latar belakang dan hambatan belajar yang dimilikinya.
Pendidikan yang seharusnya menjadi ajang pencarian kebenaran dan pemberian fasilitas bagi tumbuhnya kemanusiaan itu kemudian berubah menjadi ajang pergumulan elite penguasa dan politisi. Tanpa penyadaran intuisi kemanusiaan itu, pendidikan bisa berubah menjadi praktik sistematis dehumanisasi. Untuk mengatasi semua itu, kualitas pendidikan mesti ditingkatkan. Kualitas pendidikan berkenaan dengan bagaimana meningkatkan kualitas SDM agar bangsa dapat mempertahankan eksistensinya. Dalam masalah ini ter-cakup pula masalah ketertinggalan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain di dunia yang lebih maju. Masalah kualitas pendidikan menyangkut banyak hal, antara lain kualitas calon anak didik, guru, dan tenaga kependidikan lainnya, serta prasarana dan sarana pendidikan.
Di tingkat operasional, masalah kualitatif pendidikan demikian berkenaan dengan masalah kualitas mengajar guru dan kualitas belajar siswa. Kedua-duanya, baik kualitas mengajar guru maupun belaja siswa, haruslah sama-sama ditingkatkan secara serempak agar didapatkan kualitas lulusan sebagaimana yang dikehendaki. Persoalan yang berkaitan dengan kualitas pendidikan ini adalah kurikulum yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat, terutama di sekolah-sekolah lanjutan umum yang memiliki kecakapan yang tidak sesuai dengan kebutuhan pembangunan. Metode mengajar yang konvensional dan cara evaluasi yang lazim terkonsentrasi pada aspek pengetahuan dan ingatan dan sekedar mempersiapkan ujian menjadikan penyebab belajar siswa sekadar ditujukan untuk ujian belaka.
Pendidikan sering dijadikan sebuah sistem yang berkonsentrasi untuk memproduksi pola perilaku dan kepribadian yang telah dirancang penguasa dan birokrat pendidikan tanpa member peluang manusia tumbuh sesuai keunikan dirinya sendiri. Dalam model pendidikan seperti ini, kebudayaan makin dikembangkan menjadi sebuah uniformitas. Kebudayaan yang demikian secara niscaya akan sangat rapuh dan mudah hancur hanya oleh sebuah penyebab. Akibatnya, krisis kebangsaan yang hingga kini sudah berlangsung hamper sepuluh tahun belum juga memperoleh titik terang penyelesaian, bahkan Nampak semakin ruwet.
Dalam hubungan itulah pendidikan perlu disentuh reformasi melalui peletakan pendidikan sebagai proyek besar bangsa ini untuk merubah kebudayaan. Pendidikan bukan sekedar hanya membuat orang cerdas dan terampil, tetapi juga memiliki kesadaran makrifat dan kewasktha-an. Prinsip ke-takwa-an di dalam dunia pendidikan selama ini selain abstrak, juga hanya dikaitkan dengan kurikulum pendidikan agama dan (dulu) pendidikan Pancasila atau PMP. Sayangnya, pendidikan agama dan PMP harus dinyatakan gagal meredam nafsu amarah yang melatarbelakangi berbagai kerusuhan berdarah seperti dikawasan Ambon, Sambas, Aceh dan beberapa daerah lain. Pendidikan agama dan PMP juga gagal meredam kerakusan elite politik dan pelaku ekonomi negeri ini sehingga melahirkan tradisi KKN (Isjoni, 2008:30). Prinsip takwa perlu dirumuskan secara konseptual yang berkaitan dengan kemakrifat-an dan kewaskita-an tersebut.
Karena itu penting bagi Departemen Pendidikan Nasional untuk segera meletakkan dasar kebijakannya di dalam melakukan perubahan kebudayaan sehingga dunia pendidikan lebih tercerahkan. Memang, kebijakan dasar itu tidak segera memperlihatkan hasil konkret yang langsung berkaitan dengan penyelesaian banyak krisis bangsa ini. Namun, tanpa perubahan pendidikan, ketika semua masalah mungkin telah diatasi, bangsa ini akan mudah terperangkap kembali ke dalam krisis multidimensi hanya oleh penyebab-penyebab ekonomi dan politik seperti yang kini kita alami. Kebijakan dasar pendidikan nasional itu akan menjadi penting satu dasawarsa ke depan, ketika bangsa ini benar-benar berada di tengah pusaran peradaban global.
Tanpa peletakan dasar kebijakan yang lebih makrifat dan waskiha, pendidikan nasional akan gagal member pelayanan kebutuhan pendidikan bagi masyarakat public. Pendidikan nasional bahkan akan terperangkap kembali memproduksi sebuah format kebudayaan yang bisa bertentangan dengan doktrin nasionalisme baru dan HAM itu sendiri, seperti selama Orde Baru. Ide-ide pendidikan pembebasan yang menjadi wacana luas di kalangan akademisi pendidikan bersama teologi pembebasan di kalangan aktivis LSM dan anak-anak muda kampus merupakan tanda-tanda munculnya persoalan serius yang akan dihadapi dunia pendidikan nasional kita.
Selain itu, dunia pendidikan nasional juga akan menghadapi masalah meluasnya tuntutan keadilan dalam pendidikan bagi semua kelas social, terutama bagi lapisan masyarakat bawah. Adalah penting bagi Mentri Pendidikan Nasional untuk menjernihkan kembali “etika pendidikan nasional” yang bebas dan penempatan pendidikan nasional sekedar sebagai alat pelestaria penguasa (Isjoni, 2008:32). Selama ini pendidikan nasional lebih menitikberatkan sebagai alat indoktrinasi politik dengan dalih nasionalisme menurut versi elite penguasa (borjuis). Karena itu, pendidikan nasional perlu melakukan pemihakan, bukan saja pada penegakan HAM dan demokratisasi, tetapi juga pemihakan kepentingan public, khususnya kepentingan warga Negara Indonesia yang mayoritasnya adalah masyarakat miskin, juga kepada kaum buruh dan petani.
Antara Upin dan Ipin
Belakangan ini saya dan anak-anak di rumah sedang kesengsem berat dengan film kartun Upin dan Ipin di tpi. Buat yang belum tahu, film ini menceritakan kehidupan anak kembar Upin & Ipin di sebuah desa. Yang satu berambut seuntai bernama Upin, dan adiknya yang botsi alias botak sekali bernama Ipin.Untuk sementara lupakan dulu pertentangan atau polemik klaim budaya dengan negeri jiran Malaysia. Cobalah sesekali tonton film kartun anak-anak Ipin dan Upin selama ramadhan diputar menjelang magrib. Maaf saya tidak dalam posisi berpromosi dengan tayangan ini. Saya juga tak bermaksud menggiring anda untuk bersetuju dengan pendapat saya.
Film kartun Upin & Ipin ini memang produk asli Malaysia. Tapi saya menyarankan, untuk menonton jangan menggunakan paradigma apriori terhadap produk Malaysia yang satu ini. Cobalah nikmati sebagai sebuah karya film kartun yang sangat ‘melayu’.
Apa pentingnya sangat Melayu? Bagi saya penting, karena belakangan kita seperti dibombardir beraneka budaya pop barat yang menjauhkan kita dari pijakan leluhur. Kita seperti berumah di atas angin. Berada di negeri sendiri namun dengan sensasi yang sangat barat.
Nah, film kartun Upin dan Ipin seperti membawa saya ke kampung sendiri. Mengajak saya menengok masa lalu. Meski saya sadar ini (lagi-lagi) produk luar, namun jalinan ceritanya sangat dekat dengan keseharian kita di Indonesia.
Lihat saja betapa menggelikannya tingkah laku Upin dan Ipin yang ketakutan saat dokter gigi datang ke sekolah. Dengan jenaka digambarkan bagaimana anak-anak dengan caranya masing-masing menghindar dari dokter. Ada yang ngumpet di bawah meja hingga bolos karena takut diperiksa dokter.
Atau dalam cerita lainnya mengenai puasa, diperlihatkan lugunya kedua tokoh anak kembar ini teler karena tak kuat menahan lapar. Pertanyaan-pertanyaan khas anak-anak seperti mengapa orang muslim harus puasa, atau kenapa puasa ramadhan harus sebulan pun dimunculkan. Uniknya, meski bernilai pendidikan, namun ujaran yang digunakan sangat mudah dicerna anak-anak. Bahasa yang digunakan sangat khas anak-anak.
Mungkin inilah film kartun yang bermuatan dalam tanda kutip. Ia tak hanya menyampaikan pesan namun juga memiliki tanggung jawab pada isi pesan yang disampaikan bagi khalayak penontonnya. Sebuah hal yang belakangan jarang saya temui di tayangan anak-anak kita.
Melihat film kartun ini seperti melihat kehidupan anak-anak kita di pedesaan. Dengan keluguan, kenakalan, persaudaraan antar warga, serta mengagungkan nilai-nilai pada orang tua, saya kira inilah cerita yang pas bagi anak-anak. Posisi anak ditempatkan pada porsinya, sementara peran orang tua pun tidak sekedar menggurui, namun menjadi ‘teman’ yang membimbing.
Sangat jauh dari isi pesan sebagian sinetron berlabel anak atau keluarga yang ada di Tv kita. Tengok saja beberapa sinetron ramadhan yang (maunya) ditujukan bagi anak, namun dibungkus dengan penceritaan gaya orang tua. Dimana diperlihatkan dengan gamblang perseteruan, kebencian, atau dendam kesumat. Anak-anak pun berperan layaknya orang dewasa dalam bentuk mini.
Kalaupun ada kurangnya, di film kartun Upin dan Ipin, saya melihat ada yang tidak dijelaskan mengapa si kembar Upin dan Ipin hanya tinggal dengan nenek dan kakaknya. Kemana kedua orang tuanya tidak dijelaskan dan disinggung sama sekali. Ini membingungkan, tidak saja bagi anak-anak, tapi juga orang tua yang mendampingi menonton. Selain itu, anak-anak juga perlu didampingi karena dalam beberapa cerita, ada beberapa kebiasaan warga Malaysia yang berbeda dengan kita. Dan itu perlu dijelaskan pada anak-anak yang tak bisa menangkap konteksnya.
Tapi diluar kekurangan itu, saya sangat respek dengan jalinan kisah dan penceritaan film Upin dan Ipin. Melihat film ini saya kok tak pernah berpikir darimana dan siapa para pembuatnya. Saya dan juga anak-anak yang melihat, hanya melihat sebuah sajian budaya dengan kemasan yang sangat dekat dengan kita. Teramat dekat malah.
Saya sendiri lebih senang jika anak-anak di rumah menyenangi tokoh fantasi semacam ini, ketimbang Sponge Bob yang penuh adegan kekerasan itu. Bagaimana dengan anda?
Antara Asa dan Fakta Dakwah
Dakwah, BERTUJUAN untuk…
Mengajak … bukan … mengejek
Mengajar … bukan … meng-hajr
Membina … bukan … menghina
Menasehati … bukan … menusuk hati
DAKWAH akan LANCAR dengan…
Menabur kasih … bukan … menguburnya
Menggalang kekuatan … bukan … menggulungnya
Menerangi kebenaran … bukan … memeranginya
Menjaga hak saudara … bukan … menjegalnya
Dakwah, SEHARUSNYA bisa…
Membimbing … bukan … membimbangkan
Memajukan … bukan … memojokkan
Menganjurkan … bukan … menghancurkan
Menyadarkan … bukan … menidurkan
DAKWAH akan lebih BERKWALITAS dengan…
Tabah hadapi cobaan … bukan … tambah minta pujian
Sabar lewati rintangan … bukan… gusar hadapi tantangan
Mewujudkan amalan nyata … bukan … mengumbar kata kata
Menuntun mad-uw … bukan … menonton mereka
DakWah, TERASA INDAH bila untuk…
Meneladani … bukan … menelanjangi
Saling memberi … bukan … saling meng-iri
Menyemangati … bukan … menyengat-mati
Mencipta rasa damai … bukan … membuat massa ramai
DAKWAH, terasa MANIS dengan…
Menebar senyum manis … bukan … mengumbar wajah sinis
Berakhlak halus … bukan … berakal bulus
Berniat tulus … bukan … berminat fulus
DAKWAH, itu UPAYA untuk…
Mempertahankan akidah … bukan … mempertuhankan kabilah
Menghidupkan sunnah … bukan … meredupkannya dg bid’ah
Menjadikan orang patuh … bukan … membuatnya jatuh
Membuat umat sembuh … bukan … menjadikannya kumat & kambuh
(oleh: Ganden Kohkono)
Pendidikan Yang Terlewatkan
Pagi-pagi, seorang ibu dan anaknya dengan wajah tegang menuju rumah seorang aparat pemerintah. Pertemuan itu tak lebih dari 10 menit. Ibu dan anak pamit, dan pulang dengan wajah ceria. Keceriaan disampaikan kepada ayahnya melalui telepon. Apa yang terjadi?
Rupanya ibu dan anak itu berhasil memperoleh bocoran soal ujian setelah membayar sejumlah uang. Apa yang signifikan dari peristiwa ini? Jika peristiwa itu direnungkan, suatu hal amat jelas. Orangtua telah menanamkan virus kehidupan kepada anak bahwa sukses bisa dibeli dengan uang, dengan menyogok, dan semua itu seolah sah-sah saja. Peristiwa itu juga menggoreskan catatan seumur hidup di hati anak. Pagi itu, orangtua telah merobohkan prinsip kejujuran. Akibatnya, jika suatu saat orang atau guru mengajarkan nilai-nilai kejujuran, anak akan menilai semua itu bisa ditawar. Singkatnya, secara moral orangtua tidak lagi punya wibawa untuk mengajarkan kejujuran di mata anaknya.
Belum lama ini saya dibuat tercenung membaca Pojok Kompas (15/1). Tertulis: "Kelulusan 322 calon PNS di Departemen Agama dibatalkan sebab yang bersangkutan tak ikut tes". Di lingkungan Depag, juga di departemen lain, kecurangan seperti ini bukan hal baru. Namun saat korupsi terjadi di Depag, implikasi moral politiknya lebih besar karena bisa mengarah pada logika bahwa Depag yang mestinya berperan sebagai "sapu yang bersih" telah terseret dan menyatu bersama sampah yang hendak dibersihkan.
Pendidikan berbasis karakter
Pendidikan adalah usaha sistematis dengan penuh kasih untuk membangun peradaban bangsa. Di balik sukses ekonomi dan teknologi yang ditunjukkan negara-negara maju, semua itu semula disemangati nilai-nilai kemanusiaan agar kehidupan bisa dijalani lebih mudah, lebih produktif, dan lebih bermakna. Namun banyak masyarakat yang lalu gagal menjaga komitmen kemanusiaannya setelah sukses di bidang materi, yang oleh John Naisbit diistilahkan High-Tech, Low-Touch. Yaitu gaya hidup yang selalu mengejar sukses materi, tetapi tidak disertai dengan pemaknaan hidup yang dalam. Akibatnya, orang lalu menitipkan harga dirinya pada jabatan dan materi yang menempel, tetapi kepribadiannya keropos.
Seseorang merasa diri hebat dan berharga bukan karena kualitas pribadinya, tetapi jabatan dan kekayaan, meski diraih dengan cara tidak terhormat. Pribadi semacam ini oleh Erich Fromm disebut having oriented, bukan being oriented, pribadi yang obsesif untuk selalu mengejar harta dan status, tetapi tidak peduli pada pengembangan kualitas moral.
Ketika pendidikan tidak lagi menempatkan prinsip-prinsip moralitas agung sebagai basisnya, maka yang akan dihasilkan adalah orang yang selalu mengejar materi untuk memenuhi tuntutan physical happiness yang durasinya hanya sesaat dan potensial membunuh nalar sehat dan nurani. Padahal, aktualisasi nilai kemanusiaan membutuhkan perjuangan hidup sehingga seseorang akan merasa lebih berharga dan bahagia saat mampu meraih kebahagiaan nonmateri, yaitu intellectual happiness, aesthetical happiness, moral happiness ,dan spiritual happiness. Pendidikan yang sehat adalah yang secara sadar membantu anak didik bisa merasakan, menghayati, dan menghargai jenjang makna hidup dari yang bersifat fisikal sampai yang moral, estetikal, dan spiritual. Peradaban dunia selalu dibangun oleh tokoh-tokoh moral-spiritual, yang dihancurkan politisi dan teknokrat yang mabuk kekuasaan.
Selama ini produk pendidikan amat kurang membantu pertumbuhan spiritualitas anak sehingga mereka sulit mengagumi keramahan langit terhadap bumi, gemercik air, festival awan, kekompakan hidup dunia semut, dan perilaku alam lain yang semua itu merupakan ayat-ayat Tuhan dan bacaan terbuka yang amat indah. Ini semua disebabkan kesalahan proses pendidikan yang kita dapat, yang hampir melupakan dimensi akal budi dan emosi serta tidak memandang alam sebagai entitas yang hidup.
Sebenarnya tak ada benda mati di hadapan orang yang akal budinya hidup. Terlebih di hadapan Tuhan, semuanya hidup dan bekerja atas perintah-Nya karena tercipta bukan tanpa tujuan. Pendidikan kita kurang mengajarkan bagaimana bersahabat dan berdialog dengan kehidupan secara menyeluruh.
Sebuah kasus menarik saat bencana tsunami di Aceh, hampir tidak ditemukan bangkai sapi atau kerbau dan hewan lain karena semuanya telah menyelamatkan diri. Hewan-hewan itu memiliki kepekaan dan mampu berdialog dengan sesama penghuni bumi saat bahaya akan datang. Kalaupun ada yang mati, itu lebih dikarenakan hewan-hewan itu kurang makan atau terjebak di kandang.
Belajar dan mengajar dengan hati
Seiring munculnya kesadaran dan tuntutan moral dalam dunia bisnis, dalam dunia pendidikan juga muncul gerakan baru untuk melibatkan emosi dan nurani dalam proses pembelajaran. Dipopulerkan oleh Danah Zohar, Ian Marshall, dan Daniel Golleman, literatur seputar betapa vitalnya dimensi spiritual dan emosional dalam kerja dan belajar kian diapresiasi kalangan eksekutif muda dan praktisi pendidikan. Misalnya, Training ESQ- Leadership yang dimotori Ary Ginanjar mendapat sambutan masyarakat.
Pelatihan ini menghasilkan lebih dari 50.000 alumni, tersebar di seluruh perusahaan di Indonesia, dan tiap bulan bertambah sedikitnya 7.000. Bahkan training ini telah masuk kurikulum SESKOAD Bandung. Fenomena ini tentu amat menggembirakan, sebuah kebangkitan kesadaran etis dan spiritual dalam upaya membangun bangsa yang bermartabat serta mendorong lahirnya generasi baru yang setia dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan dan ketuhanan.
Ada beberapa buku yang sebaiknya dibaca para guru, misalnya karya-karya Eric Jensen, Thomas Armstrong, dan Dave Meier soal bagaimana menciptakan proses dan suasana pembelajaran dengan mengacu pada sifat otak dan emosi (brain based learning) sehingga suasana belajar menjadi nyaman, kreatif, dan kontemplatif. Pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai subyek, di mana anak-anak itu memiliki nurani dan potensi multikecerdasan, namun belum tergali dan teraktualisasi. Dengan demikian, proses pembelajaran sebaiknya dimulai dengan melihat, mengamati, dan merasakan lingkungan sosial yang dihadapi, guru dan murid berempati menjadi bagian integral dari realitas sosial dan semesta. Dari situ keilmuan dibangun untuk membantu memecahkan problem kemanusiaan.
Semua ilmu pengetahuan awalnya adalah produk kegelisahan akal budi dan nurani guna meringankan beban hidup manusia. Celakanya, banyak kaum profesional dan birokrat yang dengan ilmu dan jabatannya malah menjadi penindas rakyat. Rakyat amat merindukan pemimpin, birokrat, dan pelaku pasar yang senantiasa mempertahankan prinsip hidup terhormat, hidup yang dipimpin suara hati, meski bisa jadi harus siap hidup sederhana. Itu semua harus dimulai dari pendidikan keluarga dan sekolah yang menjunjung tinggi pendidikan karakter.
Interseksi Kemiskinan, Terorisme & Khilafah di Nusantara
Agenda nasional dalam rangka pilpres hampir sempurna, namun ada beberapa tugas MK untuk menyelesaikannya masalah kecurangan pemilu. Kalau seandainya SBY-Boediono jadi, maka tugas paling penting ada pada pundak kaum sunni (Ahlussunnah wal Jama'ah). Permasalahannya menjadi sangat rumit, ketika kelompok politik Islam trans nasional bercokol meminta jatah menteri pendidikan atau menteri Agama. Ditambah lagi rekrutmen teroris yang banyak menggunakan alumnus pesantren atau pemuda muslim dibawah garis kemapanan, sedikitnya menampar wajah-wajah kaum sunni. Serta lebih parah lagi ancaman Pancasila akan idiologi Politik Islam, dan NKRI oleh Daulah Islamiyah.Metamorfosa Demokrasi - Demokrasi Otoriter, apakah paksaan atau mekanisme alam?
Pesta Demokrasi yang baru saja kita lakukan lewat pilpres ( tanggal 8 Juli 2009 ) merupakan sebuah prestasi tersendiri bagi bangsa Indonesia. Beberapa pakar menyebutnya sebagai pesta demokrasi termaju di dunia, menandingi Amerika Serikat sendiri. Sistem penghitungan yang digunakan dengan sistem Quick Count (penghitungan cepat) yang dilakukan oleh beberapa stasiun televisi dan KPU sendiri, merupakan prestasi tersendiri bagi bangsa kita.
Namun kecurangan-kecurangan pemilu yang terjadi lewat DPT Ganda sedikitnya menyisakan masalah yang rumit, jika kemudian mencapai jumlah tertentu (10 juta surat suara), jika ini kemudian diselesaikan secara hukum, dan Mahkamah Konstitusi mengabulkan beberapa permintaan partai atas pengajuan permasalahan DPT(daftar pemilih tetap) Ganda ini maka kemungkinan besar pilpres akan diulang lagi. Jika kemudian kecurangan ini kemudian tidak diback up untuk diselesaikan sesuai konstitusi kita, maka pilpres kita selesaikan kemarin cacat hukum. Eksistensi "demokrasi" di negara kita ini menjadi tidak murni lagi. Bisa jadi kita patut mencatut platfrom "demokrasi" dari negara kita, menjadi platfrom "demokrasi yang otoriter".
Jum'at (17 Juli 2009), pukul 07.47 dan 07.57 dua bom meledak di hotel JW Mariott dan Ritz Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Ketika pihak-pihak yang sedang mempermasalahkan jumlah kecurangan pemilu melalui saksi-saksi yang tergabung dalam timsukses JK-Win dan Mega-Pra (pada tanggal 20 Juli saksi JK-Win menolak menandatangani kesaksiannya, dan tanggal 21 Juli menyusul saksi Mega-Pra juga menolak kesaksiannya), pemerintah malah mengkambinghitamkan lawan-lawan politiknya sebagai penyebab adanya kerusuhan ini.
Padahal dua kubu yang dimaksudkan selama ini hanya menginginkan kecurangan-kecurangan yang terjadi pada pilpres 8 Juli lalu untuk diselesaikan secara hukum tentunya dengan mekanisme Peninjauan Kembali (PK) perkara DPT "ganda pada Mahkamah Konstitusi. Entah apa yang terjadi kemudian kita serahkan pada mekanisme Mahkamah Konstitusi dalam menyelesaikan problem kecurangan pemillu ini. Prinsipnya ketika kecurangan ini bisa dibuktikan, maka pilpres 2009 dinilai gagal.
25 Juli 2009, KPU secara resmi mengumumkan hasil pilpres dengan prosentase Mega-Prabowo 26,79 %, SBY-Budiono 60,80 % dan JK-Wiranto 12.41 %, dengan catatan saksi dari Mega-Prabowo dan JK-Wiranto meninggalkan sidang pleno yang diselenggarakan KPU, karena alasan tertentu.
Kalau kemudian sudut pandang (angle) yang diambil MK tetap memenangkan SBY-Budiono dengan tanpa pertimbangan yang mendalam tentang detail kasus pelanggaran, apa bedanya dengan zaman Rezim Suharto yang merupakan rezim otoriter?
Penghitungan Pilpres 2009 bergulir, teroris bombardir ....
Indonesia dikejutkan oleh ledakan bom di dua hotel yang bertempat di JW. Marriot dan Ritz Carlton kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Ditengah-tengah hiruk pikuk KPU mengamati perhitungan hasil pilpres, dua bom berukuran 30 kg meledak di dua tempat tersebut, dan satu bom aktif berhasil dijinakkan oleh tim gegana Densus 88 di kamar 1808.
Kemudian yang terjadi adalah pemerintah gegabah dalam menanggapi masalah ini, sehingga muncul dari pidato Presiden bahwa kejadian ini merupakan kontroversi yang terjadi di tingkat elit politik. Juga beberapa pernyataan Presiden SBY yang menyentuh ranah intelejen yang seharusnya tidak boleh dikonsumsi oleh masyarakat umum. Informasi ini meliputi pengganjalan SBY agar tidak terpilih menjadi presiden, membuat chaos, membubarkan KPU, dan keinginan menjadikan Indonesia seperti negara Iran.
Pernyataan seperti itu tak pelak mengundang decak kecewa beberapa kalangan, termasuk didalamnya lawan politiknya, dan terutama masyarakat Indonesia. Dengan berbagai tekanan dari berbagai pihak akhirnya presiden mengklarifikasi penyataannya, namun dengan mendiskreditkan berbagai kalangan (termasuk mass media) yang dianggapnya telah melintir pidatonya. Sungguh ini tindakan yang kurang arif dan kurang proporsional bagi sosok presiden.
Tanpa bermaksud mengadili pemimpin Negara ini, ada beberapa kebocoran informasi tentang data intelejen yang bukan merupakan konsumsi masyakat umum, dan menafikan usaha kepolisian dalam menangani persoalan terorisme di Negara ini.
Akar-akar terorisme di Nusantara
Beberapa tahun terakhir pesantren terkena imbas isu teroris pasca bom WTC 11 September 2001. Pesantren Ngruki Sukoharjo salah satunya. Walaupun akhirnya tidak dapat dibuktikan bahwa pesantren tersebut mengajarkan mekanisme jihad di negeri ini, setelah DEPAG meninjau langsung kurikulum dan proses belajar-mengajar di pesantren itu. Sidney Jones, pengamat teroris yang berkebangsaan Australia inilah orang yang pertama mengeluarkan pernyataan tersebut. Yang terjadi adalah beberapa santri jebolan pesantren itu yang kemudian terjadi rekrutmen dengan organisasi berhaluan keras seperti Jama'ah Islamiyah yang berkiblat pada Al-Qaedah, NII dan organisasi sempalan lainnya.
Terkait dengan organisasi teroris yang ada di Indonesia, pada 22 Juli 2009 TV One menggelar acara special yang membahas akar teroris di Indonesia. Beberapa catatan penting yang dikeluarkan narasumber Brigjen. Surya Dharma Alam (mantan ketua Densus 88) yang membahas tuntas akar permasalahan peledakan bom di Indonesia yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir.
Salah satunya adalah analisa tentang sebuah paradigma masyarakat muslim yang secara ideologi ada kesamaan wacana normatif tentang konsep Daulah Islamiyah. Tanpa pembahasan yang panjang tentang konsep Daulah Islamiyah itu sendiri apa?, beliau menegaskan ada latar belakang historis yang melekat di memori masyarakat Indonesia, dengan pernah dilakukan pemberontakan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo (S.M. Kartosuwiryo, red) lewat DI/ TII pada tanggal 7 Agustus 1949 di Tasikmalaya Jawa Barat. Jika ditarik garis merah dengan peristiwa tersebut, ada kesamaan idiologis secara genetis terhadap jaringan Al-Qaedah.
Dalam berita yang dirilis oleh Metro TV, 24 Juli 2009, dengan berdiskusi langsung dengan beberapa mantan pejuang jihad Afganistan, yang menegaskan beberapa pernyataan penting terkait apakah ada relasi antara Jamaah Islamiyah dengan Al-Qaeda. Menurut informasi yang disampaikan, Noordin M. Top memang dahulu anggota Jamaah Islamiyah namun setelah mengikuti pendidikan di Mindanau, Nurdin M. Top lebih tertarik dengan model perjuangan Al-Qaeda.
Skema terakhir yang dikeluarkan oleh beberapa pengamat intelejen kita, organisasi Al-Qaeda di Asia Timur (Asean) memang tidak bersinggungan langsung (dalam satu garis perintah) dengan organisasi Jamaah Islamiyah, Majelis Mujahiddin Indonesia, Negara Islam Indonesia dan lain-lain. Organisasi ini berkembang secara asimetris dengan Al-Qaedah, sehingga sampai sekarang pun pelaku pengeboman 17 Juli 2009 kemaren belum bisa terungkap pelakunya, yang ada hanya dugaan dari mass media. Pihak polisi yang menangani langsung masalah ini belum bisa memberi keterangan siapa yang pelaku dibalik peristiwa ini, karena memang bentuknya yang asimetris dan tidak dalam satu garis perintah.
Tujuan pengeboman yang dilakukan jaringan Al-Qaedah di Indonesia, seperti yang diungkapkan Brigjen Surya Dharma Alam di TV One yang berbunyi : "Al-Qaedah sedang mencari negara mana yang kemudian cocok secara genetik untuk dibentuk sebuah Daulah Islamiyah". Pernyataan ini kalau boleh dibilang adalah sebuah kesimpulan empiris dalam rencana ini. Dengan kata lain Pakistan, Afghanistan, Thailand, Filiphina dan Indonesia menjadi negara-negara yang sedang di ujicoba untuk didirikan Daulah Islamiyah. Ini yang kemudian menjadi warning bagi kita, bahwa wacana Daulah Islamiyah kembali menjadi target operasi mereka, meskipun beberapa pengusung tema Khilafah telah bergulir sebelumnya (oleh NII, HTI dan ormas lainnya)
Mengapa harus Indonesia yang sebagai target Daulah Islamiyah? Kalau ditelaah yang mendalam, Indonesia yang dalam kebijakan ekonominya pro Amerika Serikat (neo liberal), seharusnya mengurangi ketergantungan tersebut. Target operasi Jaringan Teroris Al-Qaedah adalah Amerika Serikat karena targetnya terlalu besar, kemungkinan mereka mengujicobakannya di Indonesia, selain target Daulah Islamiyah yang memang sedang diujicobakan di negara kita.
Usut punya usut, konsep Khilafah yang merindukan berdirinya Daulah Islamiyah yang sudah ditanam oleh S.M. Kartosuwiryo lewat pemberontakan DI/TII. Walaupun dilapangan berbeda, ketika Hizbut Tahrir, NII lewat jalur pergerakan lebih banyak pada rekrutmen anggota menjadi kekuatan masa, PKS (trans nasional term.) menggunakan jalur politik (dengan perolehan 9 % pemilu nasional) dan Jama'ah Islamiyah serta berbagai sempalan jaringan Al-Qaeda lebih banyak pada penguatan ketentaraan (askar). Jika ketiga arus ini kemudian berkumpul dalam sebuah organisasi baru (dengan kesamaan genetis idiologi untuk mendirikan Daulah Islamiyah), maka yang terjadi kemudian adalah berdirinya sebuah Daulah Islamiyah. Tiga unsur ini yang kemudian lebih besar kesempatannya (kans) untuk sebuah Daulah Islamiyah, seperti perjuangan yang telah dilakukan S.M. Kartosuwiryo. Masyarakat kita perlu menyadari akan ancaman mereka ini, dan tidak gegabah memuji langkah mereka dalam menjajakan kaedah-kaedah ektrimisme dalam pemahaman Islam yang sempit.
Mengapa tiga aliran ini tumbuh subur di Nusantara? Ada analisa tokoh yang berbasic intelijen mengungkapkan bahwa Indonesia tidak memiliki UU anti Subversif (sebuah undang-undang yang bisa menjerat pemikiran dan pergerakan yang dianggap membahayakan negara). Kalau meminjam istilah Brigjen Surya Dharma Alam Indonesia butuh sebuah payung hukum yang disebut sebagai UU Prevension (UU pencegahan) seperti halnya di Malaysia dan Singapura.
Mengapa sebagian masyarakat kita cenderung memilih menjadi teroris?
Dengan semaraknya pendidikan non formal lewat pesantren, dan konsumsi masyarakat pesantren pada ilmu fiqh, sirah, tarikh tasyri' yang pas-pasan atau dengan catatan tidak punya basic agama yang cukup menjadikan masyarakat muslim kita sangat bervariasi pengetahuan agamanya.
Setelah keluar dari pesantren, keilmuan mereka diuji dengan tantangan kemapanan. Faktor ekonomi menjadi pengganjal lulusan pesantren untuk bangkit dan berperan aktif di masyarakat, khususnya di kancah nasional. Dengan kata lain kemiskinan (proverty) yang dialami mereka, kadang menjadi pengganjal untuk bertahan hidup, atau untuk mengembangkan dakwahnya.
Tidak salah bagi masyarakat muslim kita yang lemah secara ekonominya, kemudian direkrut oleh organisasi-organisasi yang subversif (melakukan gerakan bawah tanah).Sebut saja NII, Hizbut Tahrir dalam pergerakan mahasiswa, atau Jama'ah Islamiyah (dalam ideologi) atau Al-Qaeda yang bergerak dibidang ketentaraan.
Karena dasar keislaman yang kurang atau tantangan kemapanan ekonomi inilah, kemudian dimanfaatkan pihak lain untuk menanam aqidah, militansi (lewat mekanisme cuci otak) sehingga benih-benih itu dapat tumbuh dan berkembang dalam cita-cita Daulah Islamiyah di nusantara kita ini.
Ditambah dengan kemampuan pemerintah dalam menciptakan lapangan pekerjaan kurang, dan cenderung bermain dalam ekonomi makro dan mengabaikan ekonomi mikro yang merupakan wilayah masyarakat miskin. Jika saja perhatian pemerintah lewat ekonomi mikro dengan dibukanya lapangan kerja yang luas, gaji yang memadai, rumah yang memadai, kredit yang benar-benar pro rakyat, maka tidak ada kesempatan untuk mengambil kesempatan masyarakat muslim kita untuk menjadi teroris.
Untuk menghindari terorisme itu sendiri juga diperlukan berbagai langkah persuasif (pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, papan) oleh pemerintah. Kalau ekonomi makro lebih besar perhatiannya ketimbang ekonomi mikro, yang terjadi adalah masyarkat kita sendiri yang akan menjadi musuh dalam negara kita. Mau tidak mau ini adalah sebuah pilihan sebagian masyarakat muslim kita, walaupun pilihan itu salah dimata sebagian orang.
Kalaupun kebijakan ekonomi pemerintah selalu bermadzhab neo liberal dengan menghidupi investor asing, bursa saham yang menjanjikan untungnya (1200 trilyun pertahun), namun pemerintah masih mau berhutang pada bank dunia, maka tidak ada artinya pertumbuhan nasional yang hanya 6 %, sedangkan negara kita di dunia juga terkenal dengan negara produsen TKI yang juga produsen teroris. Dan yang perlu dicatat pesantren selalu menjadi mesin pencetak generasi terbaik untuk negaranya, hanya karena analisa Sidney Jones (pengamat teroris) yang ngawur itu tidak terbukti, yang ada hanya masyarakat kita dimanfaatkan para ekstrimis, yang berada diluar tanggungjawab pesantren.
Semboyan dan Sebutan Wali Songo
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”(QS. Ali Imron : 110).Kurang lebih lima ratus tahun yang lalu walisongo berdakwah dan berkeliling kehampir seluruh pulau jawa, maka dalam masa yang relatif singkat, yang hampir penduduknya beragama Hindu dan Budha, maka berubah menjadi kerajaan Islam Demak. Para Walisoongo mempunyai semboyan yang terekam hingga saat ini adalah :
1. Ngluruk Tanpo Wadyo Bolo / Tanpo pasukan
Berdakwah dan berkeliling kedaerah lain tanpa membawa pasukan.
2. Mabur Tanpo Lar/Terbang tanpa Sayap
Pergi kedaerah nan jauh walaupun tanpa sebab yang nampak.
3. Mletik Tanpo Sutang/Meloncat Tanpa Kaki
Pergi kedaerah yang sulit dijangkau seperti gunung-gunung juga tanpa sebab yang kelihatan.
4. Senjoto Kalimosodo
Kemana-mana hanya membawa kebesaran Allah SWT. (Kalimosodo : Kalimat Shahadat)
5. Digdoyo Tanpo Aji
Walaupun dimarahi, diusir, dicaci maki bahkan dilukai fisik dan mentalnya namun mereka seakan-akan orang yang tidak mempan diterjang bermacam-macam senjata.
6. Perang Tanpo tanding
Dalam memerangi nafsunya sendiri dan mengajak orang lain supaya memerangi nafsunya. Tidak pernah berdebat, bertengkar atau tidak ada yang menandingi cara kerja dan hasil kerja daripada mereka ini.
7. Menang Tanpo Ngesorake/Merendahkan
Mereka ini walaupun dengan orang yang senang, membenci, mencibir, dan lain-lain akan tetap mengajak dan akhirnya yang diajak bisa mengikuti usaha agama dan tidak merendahkan, mengkritik dan membanding-bandingkan, mencela orang lain bahkan tetap melihat kebaikannya.
8. Mulyo Tanpo Punggowo
Dimulyakan, disambut, dihargai, diberi hadiah, diperhatikan, walaupun mereka sebelumnya bukan orang alim ulama, bukan pejabat, bukan sarjana ahli tetapi da’I yang menjadikan dakwah maksud dan tujuan.
9. Sugih Tanpo Bondo
Mereka akan merasa kaya dalam hatinya. Keinginan bisa kesampaian terutama keinginan menghidupkan sunnah Nabi, bisa terbang kesana kemari dan keliling dunia melebihi orang terkaya didunia.
Semboyan seperti diatas sudah banyak dilupakan umat islam masa kini. Pesan Walisongo diantaranya pesan Sunan kalijogo diantaranya adalah :
1. Yen kali ilang kedunge
2. Yen pasar ilang kumandange
3. Yen wong wadon ilang wirange
4. Enggal-enggal topo lelono njajah deso milangkori ojo bali sakdurunge patang sasi, enthuk wisik soko Hyang Widi, maksudnya adalah : Apabila sungai sudah kering, pasar hilang gaungnya, wanita hilang rasa malunya, maka cepatlah berkelana dari desa ke desa jangan kembali sebelum empat bulan untuk mendapatkan ilham (ilmu hikmah) dari Allah SWT.
Para Walisongo berdakwah dengan mempunyai sifat-sifat diantaranya :
1. Mempunyai sifat Mahabbah atau kasih sayang
2. Menghindari pujian karena segala pujian hanya milik Allah SWT
3. Selalu risau dan sedih apabila melihat kemaksiatan
4. Semangat berkorban harta dan jiwa
5. Selau memperbaiki diri
6. Mencari ridho Allah SWT
7. Selalu istighfar setelah melakukan kebaikan
8. Sabar menjalani kesulitan
9. Memupukkan semua kejagaan hanya kepada Allah SWT
10. Tidak putus asa dalam menghadapi ketidak berhasilan usaha
11. Istiqomah seperti unta
12. Tawadhu seperti bumi
13. Tegar seperti gunung
14. Pandangan luas dan tinggi menyeluruh seperti langit.
15. berputar terus seperti matahari sehingga memberi kepada semua makhluk tanpa minta bayaran.
Para Walisongo adalah penerus dakwah Nabi Muhammad SAW, sebagai penerus atau penyambung perjuangan, mereka rela meninggalkan keluarga, kampung halaman dan apa-apa yang menjadi bagian dari hidupnya. Para Walisongo rela bersusah payah seperti itu karena menginginkan ridho Allah SWT. Diturunkannya agama adalah agar manusia mendapat kejayaan didunia dan akherat. Segala kebahagiaan, kejayaan, ketenangan, keamanan, kedamainan dan lain-lainnya akan terwujud apabila manusia taat pada Allah SWT dan mengikuti sunnah baginda Nabi Muhammad SAW secara keseluruhan atau secara seratus persen. Sebagaimana dikatakan dalam Al-Qur’an bahwa ummat Nabi Muhammad SAW diutus kepermukaan bumi adalah khusus mempunyai tanggung jawab penting. Misi pentingnya adalah untuk mengajak manusia dipermukaan bumi ini ke jalan Allah SWT.