Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Desember 2010

Antara Asa dan Fakta Dakwah

Pendidikan Yang Terlewatkan

Kamis, 16 Desember 2010

Semboyan dan Sebutan Wali Songo

Selasa, 14 Desember 2010

Dakwah Budaya Sebuah Proyeksi Pembangunan Karakter Ahlussunnah Wal Jama’ah

Mengingat Kembali Urgensi Dakwah

Senin, 24 Mei 2010

Forkomnas singgah di Inisnu

Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

Antara Asa dan Fakta Dakwah

ist2_1555080-symbol-heart-love-and-life-concept

Dakwah, BERTUJUAN untuk…

Mengajak … bukan … mengejek

Mengajar … bukan … meng-hajr

Membina … bukan … menghina

Menasehati … bukan … menusuk hati

DAKWAH akan LANCAR dengan…

Menabur kasih … bukan … menguburnya

Menggalang kekuatan … bukan … menggulungnya

Menerangi kebenaran … bukan … memeranginya

Menjaga hak saudara … bukan … menjegalnya

Dakwah, SEHARUSNYA bisa…

Membimbing … bukan … membimbangkan

Memajukan … bukan … memojokkan

Menganjurkan … bukan … menghancurkan

Menyadarkan … bukan … menidurkan

DAKWAH akan lebih BERKWALITAS dengan…

Tabah hadapi cobaan … bukan … tambah minta pujian

Sabar lewati rintangan … bukan… gusar hadapi tantangan


Mewujudkan amalan nyata … bukan … mengumbar kata kata

Menuntun mad-uw … bukan … menonton mereka

DakWah, TERASA INDAH bila untuk…

Meneladani … bukan … menelanjangi

Saling memberi … bukan … saling meng-iri

Menyemangati … bukan … menyengat-mati

Mencipta rasa damai … bukan … membuat massa ramai

DAKWAH, terasa MANIS dengan…

Menebar senyum manis … bukan … mengumbar wajah sinis

Berakhlak halus … bukan … berakal bulus

Berniat tulus … bukan … berminat fulus

DAKWAH, itu UPAYA untuk…

Mempertahankan akidah … bukan … mempertuhankan kabilah

Menghidupkan sunnah … bukan … meredupkannya dg bid’ah

Menjadikan orang patuh … bukan … membuatnya jatuh

Membuat umat sembuh … bukan … menjadikannya kumat & kambuh

(oleh: Ganden Kohkono)

Pendidikan Yang Terlewatkan

Ada kesan kuat, baik guru, orangtua, maupun murid, selalu didorong untuk mengejar dan menghimpun informasi keilmuan sebanyak mungkin, namun melupakan aspek pendidikan yang fundamental, yaitu bagaimana menjalani hidup dengan terhormat. Salah satu penyebab merebaknya korupsi ialah gagalnya dunia pendidikan dalam pembentukan karakter agar hidup selalu dipandu nurani.

Pagi-pagi, seorang ibu dan anaknya dengan wajah tegang menuju rumah seorang aparat pemerintah. Pertemuan itu tak lebih dari 10 menit. Ibu dan anak pamit, dan pulang dengan wajah ceria. Keceriaan disampaikan kepada ayahnya melalui telepon. Apa yang terjadi?

Rupanya ibu dan anak itu berhasil memperoleh bocoran soal ujian setelah membayar sejumlah uang. Apa yang signifikan dari peristiwa ini? Jika peristiwa itu direnungkan, suatu hal amat jelas. Orangtua telah menanamkan virus kehidupan kepada anak bahwa sukses bisa dibeli dengan uang, dengan menyogok, dan semua itu seolah sah-sah saja. Peristiwa itu juga menggoreskan catatan seumur hidup di hati anak. Pagi itu, orangtua telah merobohkan prinsip kejujuran. Akibatnya, jika suatu saat orang atau guru mengajarkan nilai-nilai kejujuran, anak akan menilai semua itu bisa ditawar. Singkatnya, secara moral orangtua tidak lagi punya wibawa untuk mengajarkan kejujuran di mata anaknya.

Belum lama ini saya dibuat tercenung membaca Pojok Kompas (15/1). Tertulis: "Kelulusan 322 calon PNS di Departemen Agama dibatalkan sebab yang bersangkutan tak ikut tes". Di lingkungan Depag, juga di departemen lain, kecurangan seperti ini bukan hal baru. Namun saat korupsi terjadi di Depag, implikasi moral politiknya lebih besar karena bisa mengarah pada logika bahwa Depag yang mestinya berperan sebagai "sapu yang bersih" telah terseret dan menyatu bersama sampah yang hendak dibersihkan.

Pendidikan berbasis karakter

Pendidikan adalah usaha sistematis dengan penuh kasih untuk membangun peradaban bangsa. Di balik sukses ekonomi dan teknologi yang ditunjukkan negara-negara maju, semua itu semula disemangati nilai-nilai kemanusiaan agar kehidupan bisa dijalani lebih mudah, lebih produktif, dan lebih bermakna. Namun banyak masyarakat yang lalu gagal menjaga komitmen kemanusiaannya setelah sukses di bidang materi, yang oleh John Naisbit diistilahkan High-Tech, Low-Touch. Yaitu gaya hidup yang selalu mengejar sukses materi, tetapi tidak disertai dengan pemaknaan hidup yang dalam. Akibatnya, orang lalu menitipkan harga dirinya pada jabatan dan materi yang menempel, tetapi kepribadiannya keropos.

Seseorang merasa diri hebat dan berharga bukan karena kualitas pribadinya, tetapi jabatan dan kekayaan, meski diraih dengan cara tidak terhormat. Pribadi semacam ini oleh Erich Fromm disebut having oriented, bukan being oriented, pribadi yang obsesif untuk selalu mengejar harta dan status, tetapi tidak peduli pada pengembangan kualitas moral.

Ketika pendidikan tidak lagi menempatkan prinsip-prinsip moralitas agung sebagai basisnya, maka yang akan dihasilkan adalah orang yang selalu mengejar materi untuk memenuhi tuntutan physical happiness yang durasinya hanya sesaat dan potensial membunuh nalar sehat dan nurani. Padahal, aktualisasi nilai kemanusiaan membutuhkan perjuangan hidup sehingga seseorang akan merasa lebih berharga dan bahagia saat mampu meraih kebahagiaan nonmateri, yaitu intellectual happiness, aesthetical happiness, moral happiness ,dan spiritual happiness. Pendidikan yang sehat adalah yang secara sadar membantu anak didik bisa merasakan, menghayati, dan menghargai jenjang makna hidup dari yang bersifat fisikal sampai yang moral, estetikal, dan spiritual. Peradaban dunia selalu dibangun oleh tokoh-tokoh moral-spiritual, yang dihancurkan politisi dan teknokrat yang mabuk kekuasaan.

Selama ini produk pendidikan amat kurang membantu pertumbuhan spiritualitas anak sehingga mereka sulit mengagumi keramahan langit terhadap bumi, gemercik air, festival awan, kekompakan hidup dunia semut, dan perilaku alam lain yang semua itu merupakan ayat-ayat Tuhan dan bacaan terbuka yang amat indah. Ini semua disebabkan kesalahan proses pendidikan yang kita dapat, yang hampir melupakan dimensi akal budi dan emosi serta tidak memandang alam sebagai entitas yang hidup.

Sebenarnya tak ada benda mati di hadapan orang yang akal budinya hidup. Terlebih di hadapan Tuhan, semuanya hidup dan bekerja atas perintah-Nya karena tercipta bukan tanpa tujuan. Pendidikan kita kurang mengajarkan bagaimana bersahabat dan berdialog dengan kehidupan secara menyeluruh.

Sebuah kasus menarik saat bencana tsunami di Aceh, hampir tidak ditemukan bangkai sapi atau kerbau dan hewan lain karena semuanya telah menyelamatkan diri. Hewan-hewan itu memiliki kepekaan dan mampu berdialog dengan sesama penghuni bumi saat bahaya akan datang. Kalaupun ada yang mati, itu lebih dikarenakan hewan-hewan itu kurang makan atau terjebak di kandang.

Belajar dan mengajar dengan hati

Seiring munculnya kesadaran dan tuntutan moral dalam dunia bisnis, dalam dunia pendidikan juga muncul gerakan baru untuk melibatkan emosi dan nurani dalam proses pembelajaran. Dipopulerkan oleh Danah Zohar, Ian Marshall, dan Daniel Golleman, literatur seputar betapa vitalnya dimensi spiritual dan emosional dalam kerja dan belajar kian diapresiasi kalangan eksekutif muda dan praktisi pendidikan. Misalnya, Training ESQ- Leadership yang dimotori Ary Ginanjar mendapat sambutan masyarakat.

Pelatihan ini menghasilkan lebih dari 50.000 alumni, tersebar di seluruh perusahaan di Indonesia, dan tiap bulan bertambah sedikitnya 7.000. Bahkan training ini telah masuk kurikulum SESKOAD Bandung. Fenomena ini tentu amat menggembirakan, sebuah kebangkitan kesadaran etis dan spiritual dalam upaya membangun bangsa yang bermartabat serta mendorong lahirnya generasi baru yang setia dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan dan ketuhanan.

Ada beberapa buku yang sebaiknya dibaca para guru, misalnya karya-karya Eric Jensen, Thomas Armstrong, dan Dave Meier soal bagaimana menciptakan proses dan suasana pembelajaran dengan mengacu pada sifat otak dan emosi (brain based learning) sehingga suasana belajar menjadi nyaman, kreatif, dan kontemplatif. Pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai subyek, di mana anak-anak itu memiliki nurani dan potensi multikecerdasan, namun belum tergali dan teraktualisasi. Dengan demikian, proses pembelajaran sebaiknya dimulai dengan melihat, mengamati, dan merasakan lingkungan sosial yang dihadapi, guru dan murid berempati menjadi bagian integral dari realitas sosial dan semesta. Dari situ keilmuan dibangun untuk membantu memecahkan problem kemanusiaan.

Semua ilmu pengetahuan awalnya adalah produk kegelisahan akal budi dan nurani guna meringankan beban hidup manusia. Celakanya, banyak kaum profesional dan birokrat yang dengan ilmu dan jabatannya malah menjadi penindas rakyat. Rakyat amat merindukan pemimpin, birokrat, dan pelaku pasar yang senantiasa mempertahankan prinsip hidup terhormat, hidup yang dipimpin suara hati, meski bisa jadi harus siap hidup sederhana. Itu semua harus dimulai dari pendidikan keluarga dan sekolah yang menjunjung tinggi pendidikan karakter.

Semboyan dan Sebutan Wali Songo

Wejangan Soekarno, mantan Presiden Pertama kita, salam ta’dhim buat beliau, JAS MERAH, jangan sekali-sekali melupakan sejarah…Saya coba nderek wejangan beliau, dengan mem-posting semboyan “Semboyan Dakwah Walisongo”…ajaran Islam yang Membumi…kontekstual…Berikut saya kutipkan tulisan Walisongo dari website yang menurut saya bagus banget….Islam yang Indonesia banget…Islam yang tetap memberi porsi “kearifan lokal”… thats my opinion.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”(QS. Ali Imron : 110).Kurang lebih lima ratus tahun yang lalu walisongo berdakwah dan berkeliling kehampir seluruh pulau jawa, maka dalam masa yang relatif singkat, yang hampir penduduknya beragama Hindu dan Budha, maka berubah menjadi kerajaan Islam Demak. Para Walisoongo mempunyai semboyan yang terekam hingga saat ini adalah :

1. Ngluruk Tanpo Wadyo Bolo / Tanpo pasukan
Berdakwah dan berkeliling kedaerah lain tanpa membawa pasukan.

2. Mabur Tanpo Lar/Terbang tanpa Sayap
Pergi kedaerah nan jauh walaupun tanpa sebab yang nampak.

3. Mletik Tanpo Sutang/Meloncat Tanpa Kaki
Pergi kedaerah yang sulit dijangkau seperti gunung-gunung juga tanpa sebab yang kelihatan.

4. Senjoto Kalimosodo
Kemana-mana hanya membawa kebesaran Allah SWT. (Kalimosodo : Kalimat Shahadat)

5. Digdoyo Tanpo Aji
Walaupun dimarahi, diusir, dicaci maki bahkan dilukai fisik dan mentalnya namun mereka seakan-akan orang yang tidak mempan diterjang bermacam-macam senjata.

6. Perang Tanpo tanding
Dalam memerangi nafsunya sendiri dan mengajak orang lain supaya memerangi nafsunya. Tidak pernah berdebat, bertengkar atau tidak ada yang menandingi cara kerja dan hasil kerja daripada mereka ini.

7. Menang Tanpo Ngesorake/Merendahkan
Mereka ini walaupun dengan orang yang senang, membenci, mencibir, dan lain-lain akan tetap mengajak dan akhirnya yang diajak bisa mengikuti usaha agama dan tidak merendahkan, mengkritik dan membanding-bandingkan, mencela orang lain bahkan tetap melihat kebaikannya.

8. Mulyo Tanpo Punggowo
Dimulyakan, disambut, dihargai, diberi hadiah, diperhatikan, walaupun mereka sebelumnya bukan orang alim ulama, bukan pejabat, bukan sarjana ahli tetapi da’I yang menjadikan dakwah maksud dan tujuan.

9. Sugih Tanpo Bondo
Mereka akan merasa kaya dalam hatinya. Keinginan bisa kesampaian terutama keinginan menghidupkan sunnah Nabi, bisa terbang kesana kemari dan keliling dunia melebihi orang terkaya didunia.

Semboyan seperti diatas sudah banyak dilupakan umat islam masa kini. Pesan Walisongo diantaranya pesan Sunan kalijogo diantaranya adalah :

1. Yen kali ilang kedunge
2. Yen pasar ilang kumandange
3. Yen wong wadon ilang wirange
4. Enggal-enggal topo lelono njajah deso milangkori ojo bali sakdurunge patang sasi, enthuk wisik soko Hyang Widi, maksudnya adalah : Apabila sungai sudah kering, pasar hilang gaungnya, wanita hilang rasa malunya, maka cepatlah berkelana dari desa ke desa jangan kembali sebelum empat bulan untuk mendapatkan ilham (ilmu hikmah) dari Allah SWT.



Para Walisongo berdakwah dengan mempunyai sifat-sifat diantaranya :

1. Mempunyai sifat Mahabbah atau kasih sayang
2. Menghindari pujian karena segala pujian hanya milik Allah SWT
3. Selalu risau dan sedih apabila melihat kemaksiatan
4. Semangat berkorban harta dan jiwa
5. Selau memperbaiki diri
6. Mencari ridho Allah SWT
7. Selalu istighfar setelah melakukan kebaikan
8. Sabar menjalani kesulitan
9. Memupukkan semua kejagaan hanya kepada Allah SWT
10. Tidak putus asa dalam menghadapi ketidak berhasilan usaha
11. Istiqomah seperti unta
12. Tawadhu seperti bumi
13. Tegar seperti gunung
14. Pandangan luas dan tinggi menyeluruh seperti langit.
15. berputar terus seperti matahari sehingga memberi kepada semua makhluk tanpa minta bayaran.

Para Walisongo adalah penerus dakwah Nabi Muhammad SAW, sebagai penerus atau penyambung perjuangan, mereka rela meninggalkan keluarga, kampung halaman dan apa-apa yang menjadi bagian dari hidupnya. Para Walisongo rela bersusah payah seperti itu karena menginginkan ridho Allah SWT. Diturunkannya agama adalah agar manusia mendapat kejayaan didunia dan akherat. Segala kebahagiaan, kejayaan, ketenangan, keamanan, kedamainan dan lain-lainnya akan terwujud apabila manusia taat pada Allah SWT dan mengikuti sunnah baginda Nabi Muhammad SAW secara keseluruhan atau secara seratus persen. Sebagaimana dikatakan dalam Al-Qur’an bahwa ummat Nabi Muhammad SAW diutus kepermukaan bumi adalah khusus mempunyai tanggung jawab penting. Misi pentingnya adalah untuk mengajak manusia dipermukaan bumi ini ke jalan Allah SWT.

Dakwah Budaya Sebuah Proyeksi Pembangunan Karakter Ahlussunnah Wal Jama’ah

Terdapat beberapa hal mendasar yang patut dipertanyakan sebelum kita berwacana tentang bagaimana menumbuhkan kembali karakter ahlussunnah wal jama’ah dikalangan kader-kadernya –termasuk mahasiswa-.

Pertama adalah apakah selama ini kader-kader sunni –termasuk mahasiswa- sudah berkarakter? Minimal karakter kader atau karakter mahasiswa?
Kedua adalah sejauh mana kader-kader sunni –termasuk mahasiswa- itu memiliki suatu refleksi intelektual dalam memahami serta menginternalisasi doktrin aswaja itu sendiri, sehingga tidak terjadi distorsi konsep maupun kerancuan dialektis.
Ketiga adalah sejauh mana para kader sunni –termasuk mahasiswa- sanggup melestarikan nilai-nilai cultural dan tradisi-tradisi amaliyah yang merupakan ruh dari aswaja itu sendiri.


Mahasiswa berkarakter
Dulu, setiap event orientasi studi dan pengenalan kampus selalu terdapat semacam guyon yang menyebutkan bahwa Tuhan itu maha segala-galanya, akan tetapi sangking mahaNya, Tuhan menghadiahkan salah satu mahaNya untuk makhlukNya yang dititipi amanah sebagai kholifah tetapi khusus yang mendapat title intelektual yaitu mahasiswa.

Akan tetapi harus diingat bahwa suatu keistimwaan sudah barang tentu diberikan kepada makhluk yang juga istimewa, sangat beralasan ketika Tuhan menghadiahkan salah satu mahaNya kepada kaum intelektual yang disebut mahasiswa, karena tanggung jawab intelektual bukanlah hal yang remeh, intelektual sangat erat kaitannya dengan devootee of ideas and values (penggemar ide-ide dan nilai-nilai) dan juga meleburkan diri kedalam budaya ilmiyah.

Sehingga mahasiswa yang berkarakter mahasiswa adalah mereka yang gandrung melakukan senggama intelektual, selalu siap menjadi pelopor dan pembangun peradaban, yang Islamnya bukan hanya teriak “Allahu Akbar“ sebagai muqaddimah serangan yang dengan symbol dan atribut yang dipakai justru mempertontonkan nilai agama yang menakutkan, mahasiswa yang mampu bergerak melakukan perubahan dari yang jumud menjadi cerah, dari eksklusif menjadi inklusif, dan dari keterkekangan menjadi pembebasan dan demokrasi, bukan hanya bashthotan fil ilmi wal jism akan tetapi juga memiliki Qalbun salim. Sehingga kesimpulannya bahwa karakter mahasiswa sebagaimana tersebut merupakan sebuah keniscayaan yang menunjang karakter berikutnya yaitu karakter ahlussunnah waljama’ah.

Dakwah Budaya Merupakan Proyeksi Pengembangan Karakter Ahlussunnah Wal Jama’ah
Ahlussunnah wal jama’ah yang selama ini kita pahami sebagai manhaj fikr mungkin secara epistimologis telah selesai tergarap, akan tetapi dalam konteks aksiologisnya masih terkesan setengah-setengah (untuk tidak menyebut sama sekali nggak berlaku), hal ini diindikasikan dengan banyaknya kader –yang mengaku- sunni belum legowo membuka eksklusifitas yang selama ini mengungkung alam fakir dan dzikir mereka, mereka –termasuk mahasiswa- masih banyak yang menganggap bahwa berfikir adalah pelembagaan “madzhab qauli”, artinya berfikir adalah taqlid buta terhadap produk-produk pemikiran yang “moncer” pada puluhan abad yang lalu, meskipun mereka sebenarnya memahami dan bahkan sudah “mempersiapkan” bekal bahwa “madzhab manhaji”-lah yang lebih bisa mendialektikakan teks sesuai konteks menuju kontekstualisasi.

Begitu pula dengan dzikir yang selama ini dipahami sebatas wiridan dan istighatsah, padahal seharusnya harus lebih luas dari itu bahwa dzikir merupakan upaya “empowering” tauhid dengan jalan mengintegrasikan ayat-ayat Qur’aniyyah, kauniyyah dan insaniyah agar terbebas dari ancaman teologis, kosmos dan kosmis, dan ini merupakan salah satu nilai dasar Islam sunni.
Sekali lagi saya ta’kidkan bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah bukanlah madzhab, akan tetapi hanyalah sebuah manhaj fikr atau bisa dibilang “paham” yang pastinya sangat lentur, fleksibel , inklusif, dinamis, tidak elitis dan tidak mengenal status quo dalam semua aspek kehidupan baik aqidah, akhlak, mu’amalah maupun yang lain. Serta sangat proporsional, yang tercermin dalam sikapnya yang teap mendahulukan nash akan tetapi memberi porsi yang sangat besar terhadap akal serta tidak terjebak pada ekstrimitas atau tatharruf. Hal ini telah dimapankan dalam prinsip tawassuth, I’tidal, tasamuh dan tawazun yang disinyalir telah menghantarkan paham ini dapat diterima oleh mayoritas umat Islam.

Dalam konteks dakwah, sangat penting menjadi focus perhatian bahwa salah satu karakter ahlusunnah wal jama’ah adalah selalu bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi. Dan hal ini hanya bisa dilakukan manakala terdapat pemahaman serta penghargaan terhadap budaya –yang baik dan benar- yang selama ini sudah mengakar, karena dakwah merupakan sebuah kegiatan budaya yang terus berubah dan dinamis sejalan dengan perubahan masyarakat dan sejarahnya. Karena itu sudah saatnya orientasi dakwah adalah proses budaya, dan apabila orientasi dakwah adalah proses budaya maka hokum hanyalah merupakan konsekuensi logis. Bukan sebaliknya, dakwah Islamiyyah hanya dipamerkan dengan pemberlakuan hokum positif tanpa diimbangi dengan penguatan kesadaran budaya, apalagi yang dipamerkan adalah produk hokum yang terkesan keras, elitis, kaku, eksklusif, jumud dan cenderung tanpa kompromi yang justru tidak membawa umat kepada pemahaman dan pensadaran akan mahasinul Islam, akan tetapi malah horror dan menakutkan. Apabila hal ini sudah terjadi, maka sudah barang tentu dakwah Islamiyyah menjadi gagal menyentuh wilayah spiritual dan kemanusiaan dengan segala dinamikanya. Dan lebih mesakke lagi daya pikat Islam pun menjadi memudar ditengah kehancuran peradaban dunia dan keputus asaan dunia modern.

Sehingga menjadi semakin gamblang, bahwa mempertahankan dan mengembangkan atau bahkan menumbuhkan kembali karakter ahlussunnah wal jama’ah lebih berkonotasi pada bagaimana kader-kader sunni mampu menghadapi dan beradaptasi dengan realitas lingkungan social dan lingkungan cultural secara lebih luas, kemudian mampu melakukan humanisasi nilai-nilai keIslaman secara dialektis serta bersedia secara legowo, professional dan proporsional me-landing-kan keilmuan dan idealisme mereka ke ranah yang lebih praktis dan aplikatif.
Oleh karena itu amat penting dipahami dan dibedakan antara Islam sebagai petunjuk Allah dan system nilai yang universal dan abadi dengan tafsir dari ajaran dan nilai itu yang bersifat temporal, cultural dan local. Oleh karena iu, seharusnya yang niscaya dipahami bersama adalah bahwa Islam yang wahyu itu memang bukanlah budaya, akan tetapi Islam yang kita pelajari, kita bicarakan dan kita dakwahkan adalah Islam yang berbudaya.

Pertanyaanya sekarang adalah, sanggupkah kader-kader dakwah yang sunni ini mengembangkan dakwah sebagai strategi budaya dan proyek kemanusiaan ?? Wallahu a’lam…

( Abdul Wahab Saleem )

Mengingat Kembali Urgensi Dakwah

Dahulu, ketika Allah menurunkan seorang nabi yang berbeda untuk setiap waktu dan kaum,manusia tidak perlu berpikir panjang bagaimana menyelaraskan agama dan kehidupan sehari – hari, karena disitu sudah ada nabi yang siap menjawab segala masalah yang timbul dalam kehidupan.

Begitu juga dengan kedatangan nabi Muhammad SAW, Nabi tercinta untuk seluruh mahluk yang brakal, untuk seluruh masa hingga hari kiamat tiba. Umatnya tersebar diseluruh belahan dunia yang masing masing memiliki latar belakang juga masalah yang brbeda.

Disaat itulah penyesuaian dalam menjalankan agama diperlukan,penyesuaian yang dimaksud disini bukanlah dengan mengubah agama hingga sesuai dengan keadaan zaman, akan tetapi dengan mengingat kembali esensi ajaran agama dan urgensi dari esensi ajaran agama itu sendiri.
Banyak sekali memang umat muslim yang menjalankan ibadah sholat persis seperti apa yang diajarakn dan diperintahkan oleh Rasul pada pada kita tanpa mengurangi ataupun menambahi sedikitpun, yang beda hanyalah tempatnya saja, sekarang kita menjalankan sholat tidak di masjid yang berlantaikan pasir dan bratapkan pelepah kurma,melainkan di masjid yang megah dan berlantai keramik, begitu juga dengan haji, kita haji dengan manasik yang sama benar dengan yang dilikukan rasulullah lebih dari 1400 tahun yang lalu, tapi kita tidak lagi naik unta ke makkah, melainkan dengan pesawat terbang dengan fasilitas yang sangat lengkap.

Begitu juga yang terjadi dalam medan dakwah, esensi yang kita dakwahkan tentu saja tidak berubah dengan apa yang didakwahkan Rasul dan para sahabatnya.namun tentu kita menyesuaikan dakwah itu dengan tantangan dan masalah yang terjadi dalam masyarakat sekarang ini.seperti halnya masalah Kristenisasi,Liberalisasi agama, degradasi moral bangsa, bahkan smpai pada pendangkalan pemahaman tentang agama islamadalah sedikit dari problematika kontemporer yang kita hadapi dan selesaikan sekarang ini.

Masalah – masalah itu tentu membutuhkan jawaban yang sesuai,langkah awal kiat adalah mencari dasar sebagai pijakan untuk mengatasi masalah tersebutdari al quran dan al hadist,tapi tanpa mengemasnya dalam setrategi dan metode yang tepat dan sesuai dengan kekinian, tantangan itu akan sulit diatasi. Dapat dikatakan bahwa untuk mengatasi problem – problem kontemporer kita harus dapat berpegang teguh pada orisinilitas dan esensi ajaran islam, dalam hal ini Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah pernah mengatakan bahwa “dalam menyelesaikan masalah gunakanlah khazanah masa lampau(turats) dengan makna yang sesungguhnya dan sampaikanlah dengan unsure – unsure kekinian.”, begitu juga dengan penggunaan sarana dakwah, meskipun sangat berperan penting, namun diera globalisasi ini kita tidak bisa lagi mengandalkan sarana/ cara – cara yang dipakai dimasa lalu. Alat komunikasi sudah sangat brkembang dengan pesatnya, dan terlalu naïf jika kita tidak menggunakannya denagn maksimal unutk berdakwah.

Dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar dalah kuajiaban syar’I, artinya kewajiban itu diatas pundak semua muslim yang ditetapkan secara syr’i. menurut nash – nash alquran dan al hadist nas – nash itu munculdalam berbagai bntuk (as- shighah),misalkan : bentuk perintah langsung (al - amr), berita (al - khabar), pemberian motivasi (al - targhib), pemberian peringatan atau ancaman (al - tamtsil).

Bentuk – bentuktersebut diatas bertebarandidalam alquran dan al hadist,yang kesemuanya memberi makana bahwa dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban syar’I, yang menjadi tanggung jawab setiap muslim dengan kapasitas yang dimiliki masing – masing individu.
Rasa tanggung jawab dakwah ini harus diwujudkan secara nyata pada setiap muslim, terlebih lagi para Da’I dan muballigh sebagai subyek yang memegang pilar utama tegaknya dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar, dan hal itu dapat diimplementasikan dengan beberapa tindakan:
1. keinginan dan seamangat yang kuat untuk menghidupkn dakwah dalam berbagai bentuk dan medianya
2. kesiapan untuk mencurahkan semua potensi dan menahan terjadinya infiltrasi yang merugikan.
3. Secara terprogram melakukan kaderisasi dakwah (Da’i) dan penerdasan generasi muda sebagai calon penerus dakwah
4. pemikiran yang intensif dan terus menerustentang masa depan dakwah,tantangan dan peluang – peluang keberhasilannya.

Menjadi dai dan muballigh berarti menekuni sebuah profesi yang aling mulia disis allah, itulah profesi manusia – manusia pilihan allah, yaitu para rasul, dengn demikian dai dan muballigh berartimenjalankan dan melanjutkanperjuangan para rasul.

Khormatan (izzah) para dai dan muballigh akan semakin terasa ketika menghayati sabda rasulullah: “Demi allah, sungguh allah akan memberikan hidayah kepada seseorang lantaran dakwah kamu,maka bagi kamu itu lebih baik dari unta pilihan (dunia dengan segala isinya).” (HR. Al - Bukhari). Oleh karena itu mari kita sebagai umat islam yang taat akan ajaran islam yang diperintahkan Allah melalui Rasulullah bersama – sama memperjuangkan agama islam melalui jalan berdakwah meskipun dengan susah payah dan penuh dengan tantangan.

Forkomnas singgah di Inisnu

JEPARA- Mahasiswa yang tergabung dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Naional Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (Forkomnas KPI)koordinator wilayah III (Jawa Tengah dan DIY) sabtu, 22 mei 2010 berkumpul di kampus Inisnu Jepara.
kegiatan yang difasilitasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa
 
Copyright © 2011 Eibece | High CTR Blogspot Themes designed by Ali Munandar | Powered by Blogger.Com.