Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Januari 2011

Jumat, 17 Desember 2010

Antara Upin dan Ipin

Selasa, 14 Desember 2010

Aliran sesat dan Gejolak Globalisasi

Hancurnya Pendidikan Moral

Senin, 29 November 2010

Antara Ilmu Da'wah dan tarbiyah

Rabu, 26 Mei 2010

[REVIEW] Perempuan Berkalung Sorban; Dunia Butuh Perempuan Pemberani!

SEKILAS TENTANG SEJARAH BAHASA INDONESIA

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Antara Upin dan Ipin

Belakangan ini saya dan anak-anak di rumah sedang kesengsem berat dengan film kartun Upin dan Ipin di tpi. Buat yang belum tahu, film ini menceritakan kehidupan anak kembar Upin & Ipin di sebuah desa. Yang satu berambut seuntai bernama Upin, dan adiknya yang botsi alias botak sekali bernama Ipin.

Untuk sementara lupakan dulu pertentangan atau polemik klaim budaya dengan negeri jiran Malaysia. Cobalah sesekali tonton film kartun anak-anak Ipin dan Upin selama ramadhan diputar menjelang magrib. Maaf saya tidak dalam posisi berpromosi dengan tayangan ini. Saya juga tak bermaksud menggiring anda untuk bersetuju dengan pendapat saya.

Film kartun Upin & Ipin ini memang produk asli Malaysia. Tapi saya menyarankan, untuk menonton jangan menggunakan paradigma apriori terhadap produk Malaysia yang satu ini. Cobalah nikmati sebagai sebuah karya film kartun yang sangat ‘melayu’.

Apa pentingnya sangat Melayu? Bagi saya penting, karena belakangan kita seperti dibombardir beraneka budaya pop barat yang menjauhkan kita dari pijakan leluhur. Kita seperti berumah di atas angin. Berada di negeri sendiri namun dengan sensasi yang sangat barat.

Nah, film kartun Upin dan Ipin seperti membawa saya ke kampung sendiri. Mengajak saya menengok masa lalu. Meski saya sadar ini (lagi-lagi) produk luar, namun jalinan ceritanya sangat dekat dengan keseharian kita di Indonesia.

Lihat saja betapa menggelikannya tingkah laku Upin dan Ipin yang ketakutan saat dokter gigi datang ke sekolah. Dengan jenaka digambarkan bagaimana anak-anak dengan caranya masing-masing menghindar dari dokter. Ada yang ngumpet di bawah meja hingga bolos karena takut diperiksa dokter.

Atau dalam cerita lainnya mengenai puasa, diperlihatkan lugunya kedua tokoh anak kembar ini teler karena tak kuat menahan lapar. Pertanyaan-pertanyaan khas anak-anak seperti mengapa orang muslim harus puasa, atau kenapa puasa ramadhan harus sebulan pun dimunculkan. Uniknya, meski bernilai pendidikan, namun ujaran yang digunakan sangat mudah dicerna anak-anak. Bahasa yang digunakan sangat khas anak-anak.

Mungkin inilah film kartun yang bermuatan dalam tanda kutip. Ia tak hanya menyampaikan pesan namun juga memiliki tanggung jawab pada isi pesan yang disampaikan bagi khalayak penontonnya. Sebuah hal yang belakangan jarang saya temui di tayangan anak-anak kita.

Melihat film kartun ini seperti melihat kehidupan anak-anak kita di pedesaan. Dengan keluguan, kenakalan, persaudaraan antar warga, serta mengagungkan nilai-nilai pada orang tua, saya kira inilah cerita yang pas bagi anak-anak. Posisi anak ditempatkan pada porsinya, sementara peran orang tua pun tidak sekedar menggurui, namun menjadi ‘teman’ yang membimbing.

Sangat jauh dari isi pesan sebagian sinetron berlabel anak atau keluarga yang ada di Tv kita. Tengok saja beberapa sinetron ramadhan yang (maunya) ditujukan bagi anak, namun dibungkus dengan penceritaan gaya orang tua. Dimana diperlihatkan dengan gamblang perseteruan, kebencian, atau dendam kesumat. Anak-anak pun berperan layaknya orang dewasa dalam bentuk mini.

Kalaupun ada kurangnya, di film kartun Upin dan Ipin, saya melihat ada yang tidak dijelaskan mengapa si kembar Upin dan Ipin hanya tinggal dengan nenek dan kakaknya. Kemana kedua orang tuanya tidak dijelaskan dan disinggung sama sekali. Ini membingungkan, tidak saja bagi anak-anak, tapi juga orang tua yang mendampingi menonton. Selain itu, anak-anak juga perlu didampingi karena dalam beberapa cerita, ada beberapa kebiasaan warga Malaysia yang berbeda dengan kita. Dan itu perlu dijelaskan pada anak-anak yang tak bisa menangkap konteksnya.

Tapi diluar kekurangan itu, saya sangat respek dengan jalinan kisah dan penceritaan film Upin dan Ipin. Melihat film ini saya kok tak pernah berpikir darimana dan siapa para pembuatnya. Saya dan juga anak-anak yang melihat, hanya melihat sebuah sajian budaya dengan kemasan yang sangat dekat dengan kita. Teramat dekat malah.

Saya sendiri lebih senang jika anak-anak di rumah menyenangi tokoh fantasi semacam ini, ketimbang Sponge Bob yang penuh adegan kekerasan itu. Bagaimana dengan anda?

Aliran sesat dan Gejolak Globalisasi

Fenomena aliran sesat yang belakangan ini muncul bersamaan dalam waktu yang singkat menjadi catatan penting dalam laju perkembangan maupun penurunan nilai-nilai agama di peradaban informasi dewasa ini. Secara serentak, aliran sesat bermunculan di negara kita. Tak usah jauh-jauh, aliran sesatpun muncul di Kudus dan Pati, kesemuanya mengatasnamakan dirinya sebagai juru selamat yang nantinya akan membawa manusia pada jalan kebenaran, keselamatan dan surga.

Di Kudus, aliran sesat muncul dengan nama Sabdo Kusumo. Sang pemimpin mengaku keturunan dari Sunan Gunung Jati dan juga mengatasnamakan nabi, sekaligus rasul akhir zaman. Puncaknya ia mengubah syahadat dengan mengganti Nabi Muhammad dengan namanya. Aliran ini sempat sangat menghebohkan masyarakat khususnya di kota Kudus dan sekitarnya, karena mencuat kabar kalau aliran itu muncul di jantung religius masyarakat Kudus, yakni komplek menara Kudus, tepatnya di desa Kauman. Keberadaannya menjadikan pesona Menara Kudus ternoda.

Sedangkan di Pati, muncul di daerah Sokopuluhan, Puncak Wangi dengan nama A’maliyah. Aliran itu diduga sesat karena mengajarkan hal-hal diluar ketentuan Islam. Aliran sesat lain yang muncul di negara kita Indonesia telah lama terjadi. Mulai dari yang sangat menghebohkan, pada waktu itu media sering memberitakan kabarnya yaitu mulai Kerajaan Langit Lia Eden sampai yang paling singkat dan langsung bertaubat, Ahmad Mushadeq.
Aliran sesat Lia Aminuddin mengaku bahwa dirinya bersama malaikat Jibril dan Nabi Isa datang kebumi menyelamatkan manusia dari kesesatan. Dia juga merasa dan mengaku mendapat ilham ataupun wahyu sebagaimana nabi-nabi dahulu.

Gejolak Globalisasi
Salah satu alasan yang mendasar munculnya aliran-aliran sesat adalah imbas dari gejolak globalisasi. Globalisasi yang menyimpan gejolak kemunculan kembali nilai-nilai kehidupan. Pada titik ini munculnya aliran-aliran sesat adalah sebagai basis penguatan nilai-nilai kehidupan. Disisi lain aliran sesat juga sebagai “pelarian” dari agama resmi yang dinilai tidak bisa menyelesaikan masalah.

Agama di nilai tidak menjalankan fungsinya sebagai the way of life. Permasalahan umat terbesar dan pelik adalah soal ekonomi yang tentunya dianggap tidak dijawab oleh agama. Aliran sesat yang muncul tak lepas dari kegelisahan kondisi ekonomi. Ekonomi dalam kehidupan globalisasi ini menjadi jantung kehidupan dan ketentraman. Sehingga orang dengan tergesa-gesa ingin memiliki harta “ekonomi” dan berbagai jenis dan macam cara pun ditempuh, mulai dengan tindak kriminal sampai dengan janji-janji yang diumbar.

Pengokohan ekonomi umat dalam agama merupakan jalan terbaik dan solutif mengatasi aliran sesat. Aliran sesat yang saat ini beterbaran dan tidak menutup kemungkinan akan muncul lagi adalah bagian dari kehidupan agama kita. Sikap sosial yang minim dan mengakarnya individualistis dalam kehidupan modern ini membuat sebagian orang yang kondisi ekonominya rendah mencari jalan alternatif yang lebih menjanjikan, guna memperoleh ketentraman batin.
Pemenuhan aspek ekonomi ini mengandalkan adanya sikap sosial yang tinggi dari umat beragama. Sikap individualistik harus di kikis habis dan rasa persaudaraan harus digelorakan. Umat Islam harus melakukan dialog intersubjektifitas, yakni dengan mendatangi secara jiwa dan raga umat lain yang berada pada garis kekhawatiran dalam beragama. Selain itu, cara pemahaman dan penguatan nilai-nilai Islam yang sebenarnya harus ditingkatkan agar pemahaman, anggapan dan penilaian yang kurang tepat atau salah dapat di kikis secara perlahan. Di titik inilah peran intelektual Islam khususnya dari kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah menjadi sangat penting. ( Wahyu Dakwah )

Hancurnya Pendidikan Moral

Seorang ayah menyekolahkan anaknya yang masih berumur 5 tahun di sebuah lembaga pendidikan formal. Lembaga yang mempunyai visi misi menjadikan anak didiknya berakhlakul karimah. Tujuan sang ayah menyekolahkan anaknya agar menjadi anak yang baik dan berbakti pada orang tua. Akan tetapi setelah sang anak tumbuh dewasa, dia suka memarahi sang ayah karena tidak mampu mewujudkan keinginan anak.

Cerita di atas merupakan pengalaman hidup dari seorang ayah yang mendapatkan perlakuan tidak baik dari anaknya sendiri. Pengalaman tersebut juga sering kita jumpai. Bahkan kita sendiri secara tidak sadar juga pernah melakukan seperti itu. Belum lagi kita sering mendengar dan melihat dalam berita di televisi, seorang anak membunuh orang tuanya sendiri. Yang disebabkan orang tua tidak mampu memberikan apa yang diinginkan anak. Sungguh tidak manusiawi lagi.
Seiring perkembangan zaman, semakin canggihnya teknologi, tindakan-tindakan amoral juga tak terhingga banyaknya. Kita lihat saja, banyak pelajar/mahasiswa yang menyalahgunakan teknologi seperti internet, handphone dll. Terkadang juga kesempatan luang seorang pelajar/mahasiswa dimanfaatkan untuk berdua-duaan yang mungkin biza menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan.

Sungguh memprihatinkan hidup zaman sekarang. Mengapa itu terjadi di bangsa kita.....?

Seperti itukah sikap pelajar/pemuda di bangsa kita...?
Tindakan amoral tidak hanya terjadi pada pelajar/mahasiswa saja. Setiap orang bisa dikatakan telah bertindak amoral jika orang tersebut melakukan sesuatu yang melanggar norma pemerintah dan agama. Seorang pejabat/orang yang berintelektual tinggi bisa saja terjerat ke penjara karena kasus korupsi. Indonesia merupakan negara korup nomor 2. Padahal penduduknya mayoritas beragama muslim. Dan Islam pun mengharamkan perbuatan tersebut.

Kenapa masih juga banyak yang melakukan?
Sekarang kita analisis, kasus-kasus seperti diatas terjadi merupakan salah satu akibat lemahnya pendidikan moral yang diberikan kepada mereka. Bukankah mereka orang-orang yang pintar dan cerdas? Orang yang berpendidikan dari segi akademisnya? Yang menjadi masalahnya disini adalah pendidikan moralnya yang sangat minim. Sehingga mereka berani melakukan seperti itu.

Kalau kita bandingkan pendidikan Indonesia dengan Singapura jauh sekali tertinggal. Dalam standar kelulusan UAN tingkat SMA di Singapura 8, sedangkan di Indonesia 5,5. Singapura sangat maju, intelijensinya terus berkembang dan nilai moralnya tidak luntur sama sekali. Kuncinya yaitu pendidikan sikap dan moral.

Baik buruknya suatu bangsa dilihat dari kondisi pemudanya. Jika pemudanya baik maka baiklah kondisi tersebut. Begitu sebaliknya, jika para pemudanya rusak, maka rusak pula bangsa tersebut. Karena di tangan pemudalah kunci perbaikan suatu bangsa. Dialah yang akan meneruskan perjuangan generasi terdahulu.

Usia remaja merupakan masa perkembangan sikap ketergantungan terhadap ortu ke arah kemandirian dan perkembangan orang yang sedang mencari jati diri, dalam pencarian itu kebanyakan mereka dapatkan dari lingkungan, interaksi dengan masyarakat. Kita coba tinjau bagaimana moral para pelajar/mahasiswa di Indonesia yang hancur. Seperti sekarang yang sedang hotnya berita tentang Aril dan Luna, artis yang sudah berbuat amoral. Dengan menyebarkan video porno. Itu berdampak pada para pelajar/pun mahasiswa. Mereka selalu penasaran untuk menonton filmnya. Dan dengan perkembangan teknologi seperti internet, mereka bisa saja dengan mudah mendownlod rekaman tersebut. Dan masih banyak lagi tindakan-tindakan amoral lainnya.

Dari sinilah kita bisa menilai bagaimana pendidikan moral di negara kita buruk sekali dan sangat memprihatinkan. Kita sebagai penerus bangsa seharusnya sadar diri dengan keadaan seperti ini. Akan diterus-teruskan kah keadaan seperti ini? Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai penerus bangsa?

Kita mulai dari pribadi kita masing-masing. Kita telah mendapatakan ilmu agama dan PPKN di bangku sekolah, itu bisa digunakan untuk membentengi diri kita. Selama ini ilmu tersebut hanya digunakan sebagai formalitas saja. Maka sekarang kita aplikasikan dalam kehidupan.

Lembaga pendidikan juga berperan aktif dalam hal ini yaitu mencetak generasi yang benar-benar mampu mengemban amanah bangsa dan mampu menghadapi tantangan globalisasi dan modernisasi. Hendaknya penididikan di arahkan untuk meningkatkan kwalitas ke ilmuan, skill, dan moral anak. Tetapi yang menjadi prioritas utama yaitu pembentukan moral. Dalam artian bahwa beberapa aspek pendidikan yang lain tidak boleh ditinggalkan, sebab aspek satu dengan yang lainnya saling berhubungan.

Dalam usia belia, yaitu masa dimana karakteristik anak terbentuk. Maka di sinilah peran orang tua mendukung dalam pendidikan moral. Orang tua juga tetap mengontrol anaknya dimanapun berada. Dan tak luput juga dari campur tangan masyarakat untuk mewujudkan remaja yang berakhlakul karimah.

“Jangan biarkan dunia ini hancur karena perbuatan kalian. Ingat, tanggung jawab kita di dunia.”

( Hidayatul Mustafidah )
Mahasiswa tarbiyah semester II INISNU.

Antara Ilmu Da'wah dan tarbiyah

Kejayaan dakwah ini (segala puji bagi Allah atas berbagai kurniaNya bagi dakwah ini) dalam bina’ ar-rijal (pencetakan kader), adalah ketika para muasis (pendiri) dan masyayikh (guru) dakwah ini, [semoga Allah terus meluaskan ilmu mereka dan menjadikan sebagai sedekah jariah] mentarbiyah para kader dakwah (nukhbah ad-dakwah) dengan penjelasan yang nyata (al-bayan al-mubin)dan dengan penyampaian yang jelas (al-balagh al-mubin). Hasilnya dengan izin Allah adalah kader-kader dakwah yang memiliki al-fahm asy-syamil (pemahaman yang utuh) dan al-iltizam al-kamil (komitmen yang teguh). Kemudian ketika dakwah ini melahirkan lapisan-lapisan generasinya- dan juga lapisan-lapisan murobbinya biggrin.gif . Maka perwarisan generasi tarbiyah dan amal tarbiyah menjadi satu kemestian. Dan pada zaman ini banyak buku-buku tentang ilmu, dan buku-buku itulah adalah salah satu bentuk sarana perwarisan itu.

Ikhwah dan akhwat sekalian, Banyak diantara buku-buku ini bernilai tathwir (pengembangan). Di awal tahun 80-an, ketika buku-buku berbahasa Arab yang ditulis oleh para ulama’ harakah islamiyah (pergerakan Islam) masuk secara deras ke negeri ini, dengan cepat dan meluas pula buku-buku ini menjadi referensi atau rujukan bagi pelbagai aktiviti dakwah. Masyarakat muslim Malaysia dan Indonesia yang umumnya tidak akrab dengan bahasa Arab dan budaya membaca buku-buku teks yang relatif masih rendah, menginspirasikan para muassis dan masyayikh dakwah ini untuk menyusun semacam khulasah (ringkasan) dan kajian analisis dari buku-buku berbahasa Arab dalam format skematik sebagai bahan penyampai materi di berbagai ‘halaqah tarbawiyah’. Inilah yang kemudian popular disebut ‘rasmul bayan’.

Di tangan para masyayikh yang luas dan dalam ‘ulum syar’inya, rasmul bayan menjadi sesuatu yang hidup, dinamis, mengarahkan dan sekaligus menghujam. Dengan cepat dan mudah pula, mereka mentransfer rasmul bayan itu dalam proses tarbiyah identik dengan panah-memanah dari rasmul bayan itu.

Persoalan baru muncul ketika rasmul bayan itu sampai di tangan para murabbi yang tidak berlatar belakang pendidikan ilmu syariat (‘ulum syar’iyah). Mulai dari ketidak mampuan menghuraikan penjelasan hingga bingung malah pening makna panah yang satu kepada panah yang lain. Dan secara kumulatif, persoalan-persoalan ini kesan pada kualiti kader dakwah yang dihasilkan, baik dari sisi al-fahm (pemahaman) mahupun dari sisi al-iltizam (komitmen).

Catatan akhir ana, ilmu itu disampaikan dari lisan mahupun pembacaan yang disusun oleh mereka yang dilahirkan dan dibesarkan dalam rahim tarbiyah, mereka yang bergerak dalam debu dan keletihan dakwah yang menyejukkan, mereka yang setia untuk menjaga dan mewarisi kebaikan dakwah ini. Sehingga nuansa ataupun ruh tarbawi, da’wi dan harakinya menjadi sangat kuat dalam penulisan tema-tema rasmul bayan tersebut. Dan itulah diantara buku-buku yang ditulis para ulama’ pergerakan Islam

Cuba kita semua renungkan, sejauh manakah penguasaan kita terhadap ilmu itu?? Sila bagi komen dan pendapat yang membina supaya kita bisa mengawal piawai kader yang dicetak insyaAllah..

[REVIEW] Perempuan Berkalung Sorban; Dunia Butuh Perempuan Pemberani!

"Perempuan juga harus punya semangat revolusioner", setidaknya itu yang saya dapat setelah menonton film ini, "Perempuan Berkalung Sorban" (selanjutnya disingkat PBS). Film berdasar novel Abidah el-Khalieqy yang berjudul sama, ditranslasi ke layar lebar oleh Starvision lewat sutradara Hanung Bramantyo yang melariskan film Ayat-Ayat Cinta.

Blak-blakan saja, saya tidak begitu tertarik menonton film-film Hollywod juga Indonesia, saya lebih suka film Indie atau film yang memang ditujukan bukan untuk komersil. Biasanya film-film begitu banyak titipan atau malah adegan yang dilebih-lebihkan. Tapi demi melihat Revalina S. Temat saat dijilbabi jadi malah tambah cantik, saya tertarik untuk menontonnya. Toh gratis, apalagi di hari pertama yang memang untuk kalangan terbatas juga untuk para jurnalis dan pekerja media.


Sumber: luqmanhakim.multiply.com

Buat saya PBS ini bukan film religi, meski memang mengangkat kehidupan Pondok Pesantren Al Huda di daerah Jombang, Jawa Timur, lengkap dengan prosesi kehidupan para kyai, ulama dan santri-santrinya.

Dikisahkan seorang perempuan kritis, Annisa (Revalina S. Temat), banyak bertanya tentang keberadaan perempuan dalam peranannya di dunia sekarang. Hidup di dunia yang sudah modern di format cerita setting tahun 1997, berkilas-balik ke kehidupan tahun 1985 saat kecilnya yang juga sudah kritis, mengalami banyak pergulatan pemikiran atas dominasi perempuan dalam kacamata Islam.

Annisa bukan Kartini yang membingungkan, Annisa juga bukan Che Guevara tokoh revolusioner legendaris, Annisa tetaplah Annisa yang digambarkan oleh Abidah sang penulis cerita sebagai sosok perempuan yang galau dengan peran pesantren menyikapi perempuan dalam sudut pandang keilmuan. Larangan banyak bertanya, sikap nurut dan manut perempuan dalam kultur pondok pesantren membuat tokoh cerita ini jadi terseok-seok menghadapi kehidupan. Semua yang direncanakan berjalan tidak mulus sesuai rencana.

Annisa yang jatuh cinta pada Chudori (Oka Antara) harus melepaskan cinta itu dan dinikahkan dengan Samsudin (Reza Rahardian), anak dari rekan ayahnya sesama Kyai. Adegan yang berlebihan, alur di awal yang hampir mirip sinetron-sinetron kebanyakan sempat membuat saya ingin muntah. Dulu saya pernah protes pada ceramah Shalat Jumat yang sempit dan tak universal. Aksi ini tentunya bikin jama'ah lain bingung, heran, aneh, bahkan kesal pada saya yang berani-beraninya mengkritik pengkhutbah Shalat Jumat. Baru setelah disadarkan oleh teman yang memang lebih mengerti, saya tinggalkan cara itu, paling kalau saya tak suka dengan ceramahnya, saya tinggal dan mencari masjid lain. Apalagi cerita di film ini, adegan di mana Annisa ditidakadilkan oleh Samsudin suaminya, Annisa yang dimadu, Annisa yang dipukul dan diperkosa oleh suaminya sendiri meski tak cabul cukup membuat saya berdiri dari bangku untuk segera meninggalkan gedung bioskop Planet Hollywood 21.

Saya tak suka alur cerita yang berlebihan, jauh dari dunia nyata meski itu jelas nyata dan ada di kehidupan. Tapi demi ingin mengambil intisari film ini, saya paksakan menonton sampai selesai. Di bagian tengah, Chudori yang pulang dari belajar di Al-Azhar, Kairo, Mesir dan bertemu Annisa, saya duduk tenang lagi di bangku. Chudori dengan karakter yang tenang bertemu Annisa yang tengah galau. Namun rasa ingin muntah itu datang lagi saat mereka dituduh berzina dan akan dihukum rajam. Alur yang tertebak, sama seperti Al-Masih saat membela pelacur yang akan dirajam, Nyai Muthmainah, Ibu Annisa (Widyawati) berdiri dan membela, "Siapa yang tak berdosa boleh merajam mereka!" Begitu katanya.

Alur terus bergulir dan saya pun kembali tenang lagi di bangku penonton. Adegan tentang setting Jokja dan kehidupan pondok pesantren meski saya tak pernah mondok, sempat membuat saya jadi sentimentil secara subyektif. Saat kecil saya terbiasa menjalani dua sekolah, pagi di SD Muhammadiyah dan siang sekolah di Ibtidaiyah, capek dan berat menjalani dua kehidupan begitu. Kakek saya dari ayah di Medan yang memang ulama sering menekankan prinsip-prinsip dasar Islam di keluarga. Pun kakek dari ibu yang aktivis Muhammadiyah sering mengajak saya kecil ke kantor PP Muhammadiyah di Menteng, membuat saya kecil sering terbengong-bengong melihat diskusi kakek dengan para tokoh Muhammadiyah kala itu, salah satu sahabat kakek saya adalah K.H. E.Z. Muttaqin yang namanya diabadikan jadi salah satu nama gedung di Unisba (Universitas Islam Bandung). Namun saat kedua kakek saya meninggal, saya jadi teringat fondasi dasar yang ditanamkan di keluarga. Saat menonton beberapa adegan yang memang mengkisahkan tentang pendidikan Islam, membuat saya beromantisme dengan kehidupan pendidikan Islam yang juga saya alami.

Islam itu mudah bukannya jadi bisa dipermudah. Islam itu rumit meski juga bukan untuk diperumit. Ada kesan memang di novel PBS Abidah El Khalieqy mencoba mendobrak tatanan baku kultur Jawa Islam dalam pondok pesantren memperlakukan perempuan. Abidah, beberapa situs yang saya browse banyak mengkritisi pemikiran-pemikirannya. Pun ada yang secara gamblang menjulukinya sebagai Feminis Rasis (klik ini). Tapi dari memilih judulnya saja saya sudah kagum. Arti di balik "Perempuan Berkalung Sorban" adalah perempuan yang memang menuntut kesetaraan dan egaliter. Sorban itu identik dengan laki-laki dalam khazanah kultur muslim, itulah yang diangkat oleh Abidah di novelnya.

Entah, saya belum membaca novelnya yang diterbitkan tahun 2000, belum bisa membandingkan plot film dan alur cerita novel. Tapi menontonnya saya relatif cukup menikmati, beromantisme sedikit dengan Jokja dan kehidupannya. Adegan membaca buku terlarang di masa Orde Baru, Bumi Manusia-nya Pramudya Ananta Toer sampai dibakar oleh para Kyai, saya punya romantismenya tersendiri. Saya membaca buku terlarang itu di Jokja juga buku-buku terlarang lainnya, dapat dari Shopping, salah satu daerah di belakang Benteng Vredeburg yang memang pusatnya banyak buku. Entah apa yang dilarang saya juga bingung, isinya bagus begitu kok dilarang pemerintah. Saya juga teringat salah satu aktivis di UGM yang kala itu mem-fotocopy buku Das Kapital-nya Karl Marx dan membuat kajian diskusi di Gelanggang Mahasiswa UGM. Diskusi belum selesai, meski cuma buku filsafat ekonomi, demi mendengar kata sensitif 'Karl Marx', semua peserta diskusi ditangkap dan dipertanyakan ideologi Pancasilanya. Si pem-fotocopy dan juga fasilitator diskusi ditangkap dan dipenjara 10 tahun. Sungguh masa-masa pembodohan bagi yang kuliah di jaman itu, pentutupan diri dari dunia luar dan takut akan segregasi ideologi.

Kelemahan detailnya mungkin pada mesin tik yang digunakan di tahun 1997. Okelah, buat yang pernah kuliah di Jokja masa-masa itu pasti tahu, meski komputer belum booming seperti sekarang tapi rental bertumbuhan bak jamur di mana-mana. Sedikit sekali yang memakai mesin tik. Khusnudzon saya mungkin tokoh cerita di sini adalah yang sedikit itu, tapi apa mungkin dengan setting LBH Yogyakarta tak ada komputer? Agak bingung juga, mungkin iya. Kalau iya, berarti kota tempat saya banyak belajar kehidupan ini terbelakang sekali dong! Tak usah juga bicara internet di tahun ini, belum ada. Tapi beberapa tahun kemudian di tahun 2000 awal, Jokja justru jadi pusatnya para hacker dan kota yang tergolong paling melek IT dan hebat dibanding kota-kota lain.

Saya relatif menikmatinya justru di bagian tengah dan akhir, saat di mana dengan kegigihannya Annisa menunjukkan diri bahwa perempuan juga bisa sama cerdas seperti laki-laki, namun ketergantungan pada laki-laki (yang baik tentunya) juga ada. Annisa yang begitu mencintai Chudori, sempat goyah saat suami keduanya yang tercinta meninggal tertabrak mobil. Sama persis seperti pandangan perempuan yang ditulis di buku 'Cinderella Complex', diangkat oleh Colette Dowling, dengan hal 'women's fear of independence', bahwa kodrat manusia, laki-laki dan perempuan memang saling mencintai, bahwa wanita juga punya ketakutan akan kemandirian.

Menonton film ini sesudahnya bisa juga ada sisi menyesal saya ke istri, di mana ketika baru menikah, istri saya yang (sepertinya) golongan Akhwat Fillah atau kalau Hassan Al Banna juga mendirikan Akhwatul Muslimat selain Ikhwanul Muslimin, istri saya yang (sepertinya) dari golongan itu jadi berubah 180 derajat. Saya yang tak berasal dari kalangan itu, saat itu yang gondrong, jeans dekil dan baju baju gambar tengkorak pernah dipandang tak enak oleh golongan ikhwan rekan istri saya. Awalnya masih bisa cuek lama-lama tak sabar, saya debati, saya pengen tau pola pemikirannya tentang Islam. Bila dulu saat baru menikah, istri saya pernah bilang kalau tak bisa memuaskan sebagai istri, saya sebagai suami boleh menikahi lagi. Saya kaget dan tak terbiasa dengan pola pemikiran yang melenceng dari egaliter, pun tak ada di keluarga saya yang poligami. Saya mengajaknya mencari dalil-dalil tentang perempuan di Islam, menunjukkannya bahwa perempuan itu memang punya hak dan kewajiban yang berbeda dengan laki-laki namun memiliki derajat yang tak kalah tinggi bahkan bisa lebih tinggi dari kaum Adam. Dalil yang menegaskan perempuan di bawah kendali suami itu kebanyakan dhaif dan dipertanyakan mutawatir juga sanad-nya. Kini istri saya kelewat mandiri dan sering mendebati, awalnya saya senang tapi lama-lama kewalahan. Ternyata saya masih egois, masih chauvinist bahwa laki-laki segalanya, he he he... Memang sudah seharusnya semua laki-laki membuang paham man chauvinism itu jauh-jauh bila ingin ada kesetaraan.

Itulah yang saya dapat dari film ini. Perempuan sebagai sosok revolusioner yang diwakili oleh Annisa. Seperti kata Subhan teman saya yang kita diskusi sedikit selesai menontonnya, film ini masuk kategori BO (Bimbingan Oelama), bilamana menontonnya dalam konteks yang sempit, kita akan menganggap bahwa Islam itu kaku, Islam itu jahat terhadap perempuan, padahal itu adalah potret kultur Jawa Islam dalam format kehidupan pondok pesantren. Jangan berharap iman akan menebal bilamana menonton film ini, bisa jadi malah sebaliknya, menuduh Islam itu tak humanis dan universal meski yang patut disalahkan adalah kulturnya, bukan agamanya. Makanya juga, "Perempuan Berkalung Sorban" ini saya katakan bukanlah film religi meski sarat kisah dengan bumbu Islam.

Mending nggak usah nonton sendirian kalo ujung-ujungnya dapat pemahaman yang tak jelas tentang Islam! Mintalah ditemani oleh Oelama, tentunya Oelama yang egaliter, Oelama yang universal dan humanis, bukan Oelama yang ada di puncak gunung dan membayangkan kehidupan dari kitab-kitab usang yang sudah menguning, tak sadar bahwa membaca Al Qur'an pun bisa dilakukan lewat HP...

SEKILAS TENTANG SEJARAH BAHASA INDONESIA

Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928. pada saat itu, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul dalam Kerapatan Pemuda dan berikrar (1) bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia, (2) berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan (3) menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ikrar para pemuda ini dikenal dengan nama Sumpah Pemuda.

Unsur yang ketiga dari Sumpah Pemuda merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Pada tahun 1928 itulah bahasa Indonesia dikukuhkan kedudukannya sebagai bahasa nasional.

Bahasa Indonesia dinyatakan kedudukannya sebagai bahasa negara pada tanggal 18 Agustus 1945 karena pada saat itu Undang-Undang Dasar 1945 disahkan sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Bahasa negara ialah bahasa Indonesia (Bab XV, Pasal 36).

Keputusan Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 di Medan, antara lain, menyatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu yang sejak zaman dulu sudah dipergunakan sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) bukan hanya di Kepulauan Nusantara, melainkan juga hampir di seluruh Asia Tenggara.

Bahasa Melayu mulai dipakai di kawasan Asia Tenggara sejak abad ke-7. Bukti yang menyatakan itu ialah dengan ditemukannya prasasti di Kedukan Bukit berangka tahun 683 M (Palembang), Talang Tuwo berangka tahun 684 M (Palembang), Kota Kapur berangka tahun 686 M (Bangka Barat), dan Karang Brahi berangka tahun 688 M (Jambi). Prasasti itu bertuliskan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuna. Bahasa Melayu Kuna itu tidak hanya dipakai pada zaman Sriwijaya karena di Jawa Tengah (Gandasuli) juga ditemukan prasasti berangka tahun 832 M dan di Bogor ditemukan prasasti berangka tahun 942 M yang juga menggunakan bahasa Melayu Kuna.

Pada zaman Sriwijaya, bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa kebudayaan, yaitu bahasa buku pelajaran agama Budha. Bahasa Melayu juga dipakai sebagai bahasa perhubungan antarsuku di Nusantara dan sebagai bahasa perdagangan, baik sebagai bahasa antarsuku di Nusantara maupun sebagai bahasa yang digunakan terhadap para pedagang yang datang dari luar Nusantara.

Informasi dari seorang ahli sejarah Cina, I-Tsing, yang belajar agama Budha di Sriwijaya, antara lain, menyatakan bahwa di Sriwijaya ada bahasa yang bernama Koen-louen (I-Tsing:63,159), Kou-luen (I-Tsing:183), K’ouen-louen (Ferrand, 1919), Kw’enlun (Alisjahbana, 1971:1089). Kun’lun (Parnikel, 1977:91), K’un-lun (Prentice, 1078:19), yang berdampingan dengan Sanskerta. Yang dimaksud Koen-luen adalah bahasa perhubungan (lingua franca) di Kepulauan Nusantara, yaitu bahasa Melayu.

Perkembangan dan pertumbuhan bahasa Melayu tampak makin jelas dari peninggalan kerajaan Islam, baik yang berupa batu bertulis, seperti tulisan pada batu nisan di Minye Tujoh, Aceh, berangka tahun 1380 M, maupun hasil susastra (abad ke-16 dan ke-17), seperti Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Tajussalatin, dan Bustanussalatin.

Bahasa Melayu menyebar ke pelosok Nusantara bersamaan dengan menyebarnya agama Islam di wilayah Nusantara. Bahasa Melayu mudah diterima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perhubungan antarpulau, antarsuku, antarpedagang, antarbangsa, dan antarkerajaan karena bahasa Melayu tidak mengenal tingkat tutur.

Bahasa Melayu dipakai di mana-mana di wilayah Nusantara serta makin berkembang dan bertambah kukuh keberadaannya. Bahasa Melayu yang dipakai di daerah di wilayah Nusantara dalam pertumbuhannya dipengaruhi oleh corak budaya daerah. Bahasa Melayu menyerap kosakata dari berbagai bahasa, terutama dari bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa. Bahasa Melayu pun dalam perkembangannya muncul dalam berbagai variasi dan dialek.

Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komunikasi antarperkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakan bahasa Melayu. Para pemuda Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia (Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928).

Kebangkitan nasional telah mendorong perkembangan bahasa Indonesia dengan pesat. Peranan kegiatan politik, perdagangan, persuratkabaran, dan majalah sangat besar dalam memodernkan bahasa Indonesia.

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, telah mengukuhkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia secara konstitusional sebagai bahasa negara. Kini bahasa Indonesia dipakai oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah.
 
Copyright © 2011 Eibece | High CTR Blogspot Themes designed by Ali Munandar | Powered by Blogger.Com.